Pages

Papua Pasti Bisa!!

Friday, July 30, 2021 | at 7:55 AM

 

Logo PON XX Papua 2021 (2020)

Dalam setiap perhelatan, Pekan Olahraga Nasional (PON) selalu menyita perhatian. Event empat tahunan ini menjadi ajang unjuk kekuatan pembangunan olahraga setiap daerah (provinsi) di negara tercinta, Indonesia. Sejak penyelenggaraan pertamanya di Solo, Jawa Tengah pada tahun 1948 hingga penyelenggaraan terakhir di Jawa Barat, PON selalu semarak dan meriah, dari penyelenggaraan, penyambutan, atraksi, hingga antusiasme dukungan penonton. Momen-momen seperti itu selalu dirindukan.

Tahun 2021, Papua mendapatkan kesempatannya untuk menunjukkan diri sebagai tuan rumah penyelenggara event nasional multi cabang olahraga yang kedua puluh ini. Kita pasti menantikan kesuksesan pelaksanaan PON sebagaimana pencapaian tuan-tuan rumah sebelumnya. Jika hendak menjadikan penyelenggaraan di Jawa Barat sebagai benchmark, maka helatan PON XX Papua juga kita harapkan memperoleh 3 (tiga) kesuksesan, sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, dan sukses pertanggungjawaban administrasi.

Mengapa Papua?

Jika ditanya, sebagai penikmat acara olahraga, daerah mana yang begitu Saya inginkan sebagai penyelenggara hajatan olahraga terbesar nasional ini? Tanpa ragu, jawaban Saya: Papua!! Mengapa?

Selama 19 (sembilan belas) kali penyelenggaraan sebelumnya, PON hampir selalu bergiliran dihelat di Jawa dengan Jakarta sebagai penyelenggara paling banyak yaitu 9 kali. Berikutnya ada Bandung dan Surabaya yang berbagi 2 (dua) kali penyelenggaraan. Sedangkan Solo menjadi tuan rumah pertama event yang sekaligus menandai penetapan Hari Olahraga Nasional, pada tanggal 9 September 1948. Sisanya 5 (lima) penyelenggaraan di luar Jawa, yaitu Medan, Makassar, Palembang, Samarinda, dan Pekanbaru.

Sebelum PON XX Papua, kesempatan satu-satunya dari Indonesia Timur untuk menjadi tuan rumah penyelenggara adalah pada PON IV tahun 1957 di Makassar. Yupp!! Enam puluh empat tahun yang lalu.

Apresiasi patut diberikan untuk Papua atas keinginannya mengajukan diri sebagai pemilik hajat empat tahunan ini, pada tanggal 2 sampai dengan 13 Oktober 2021 mendatang. Momen ini adalah kesempatan terbaik semua anak bangsa untuk memperhatikan Papua dari berbagai sisi lain yang lebih mengagumkan. Kesempatan ini seharusnya mengajak kita sebagai putra bangsa untuk lebih akrab dengan saudara sebangsa kita di Papua.

Kali ini kita akan mengalami, merasakan, dan menyaksikan keramahan Papua dan orang-orangnya dalam menjamu tamunya, para atlet, official, dan supporter dari peserta PON XX Papua. Kita juga akan disajikan eksotisme budaya dan alam Papua yang begitu mengagumkan untuk bisa memaknainya sebagai kekayaan nasional kita. Inilah saatnya kita melihat Papua lebih dekat, berbagi perayaan yang sama dengan saudara sebangsa kita dari ujung paling timur negeri.

Dukungan dan Tantangan di masa Pandemi

Papua mendapatkan hampir semua dukungan secara moril maupun materil, untuk sukses menyelenggarakan event akbar ini. Secara emosional, ini adalah momentum yang begitu didambakan oleh berbagai pihak, di mana Papua mendapatkan kesempatannya untuk menjadi pusat perhatian dari sudut pandang yang manusiawi, mampu menyelenggarakan hajatan besar dengan dukungan tulus banyak pihak yang menantikan keharuan di setiap momen yang terjadi selama penyelenggaraan.

Dari sisi venue, Pemerintah telah memberi dukungan maksimal untuk kesuksesan penyelenggaraan acara. Bayangkan saja, Papua saat ini telah memiliki Stadion Papua Bangkit (kelak berganti nama menjadi Stadion Lukas Enembe, Gubernur Papua) yang dibangun di atas lahan seluas 71.697 meter persegi dan mampu menampung kapasitas penonton lebih dari 40.000 orang. Bangunan ini berdiri elegan di Kampung Harapan, Distrik Senatani Timur, Jayapura dengan atap berbentuk dome dari bentangan baja yang mengelilingi tribun bangunan. Sedangkan dinding bangunan menonjolkan karakter Rumah Honai khas dengan begitu indah.

Di dalam kompleks Stadion Papua Bangkit ini pula tersedia 3 (tiga) venue dengan standar internasional, yaitu lapangan sepakbola, venue akuatik, dan lapangan menembak. Lapangan spekabola dibangun dengan fasilitas dan rumput manila (Zoysia Matrella) yang terstandar FIFA. Sedangkan venue akuatik telah memenuhi standar FINA dan memenuhi syarat untuk menggelar kejuaraan bertaraf internasional.

Venue lainnya tersebar di beberapa tempat yang lain, seperti Gelanggang Olahraga (GOR) Toware, GOR Cendrawasih, GOR Voli Koya Koso, Arena Cricket Doyo Baru, Lapangan Futsal dan Biliar di Timika, Lapangan Baseball dan Softball di Lanud Silas Papare, dan sebagainya.   

Dengan persiapan pelaksanaan yang begitu matang, tantangan terbesar pelaksanaan PON XX Papua adalah situasi pandemi Covid-19 yang sedang mewabahi seluruh dunia. Pandemi telah menunda pelaksanaan PON XX Papua, yang semula dijadwalkan pada tanggal 20 Oktober sampai dengan 2 November 2020 ke pelaksanaannya pada tanggal  2 sampai dengan 13 Oktober 2021 nanti. Namun demikian, semangat tidak terhenti, justru memberi nafas lebih panjang bagi persiapan penyelenggaraan agar lebih matang dan siap menjamu para peserta dan pendukungknya. Pembatasan-pembatasan yang terjadi kita harapkan tidak mengurangi hikmadnya perayaan selama dua pekan ini.

Manfaat bagi Semua Rakyat Papua

Pada akhirnya, yang diharapkan dari penyelenggaraan PON XX Papua ini, seperti disebutkan di awal adalah kesuksesan penyelenggaraan, prestasi, dan pertanggungjawaban administrasi. Seperti PON sebelumnya, PON XX Papua juga diharapkan menjadi kawah candradimuka lahirnya atlet-atlet muda potensial yang di kemudian akan hari menjadi pilar olahraga nasional kita. Tentu saja, kita berharap ini kesempatan terbaik bagi saudara-saudara kita di Papua dan Indonesia Timur untuk menunjukkan diri dan bakatnya di pentas nasional.

Sedangkan dari sisi penyelenggaraan, kita berharap momentum ini sebagai titik pendorong untuk melanjutkan pembangunan Papua. Ajang ini bisa menjadi media promosi bagi berbagai potensi Papua yang berlum terekspolrasi selama ini, seperti seni, budaya, alam, dan pariwisata. Dunia usaha harus bisa membaca peluang dan mulai mengambil peran dalam perhelatan ini.

Papua mesti punya banyak sekali Wirausaha Muda yang bisa dilibatkan dan didorong untuk menjadi penyuplai produk, jada, dan pernak-pernik yang berhubungan dengan PON XX Papua. Begitupula dengan merchandise PON XX Papua harus menjadi sarana promosi yang mengenalkan kelkalan Papua sehingga mampu menjadi semacam memorabilia yang menyimpan kenangan akan penyelenggaraan PON di Papua. Terakhir, Pemerintah Papua harus menjadikan event ini sebagai media promosi pariwisata dan budayanya yang luhur.

Kita berharap selama PON XX Papua, terjadi perputaran dan multiplier effect dari kegitan perdagangan yang terjadi di masyarakat sehingga mampu merangsang pertumbuhan roda ekonomi Papua bergerak dan tumbuh lebih besar lagi. Sedangkan setelah hajat berakhir, masyarakat Indonesia terus mengenang Papua dan menjadikannya sebagai salah satu daftar destinasi wisata prioritas mereka.

Pada akhirnya, harapan terbesar dari penyelenggaraan PON XX Papua adalah kita berhasil mengenal Papua dan saudara-saudara sebangsa kita di ujung timur Nusantara lebih dekat dan akrab. Begitupula perhelatan besar ini memberi dampak signifikan bagi pembangunan Papua dan masyarakatnya menjadi lebih baik di kemudian hari. Kita berharap pembangunan dan kemajuan kemajuan terasa di seluruh wilayah negeri yang kita cintai ini. Tanah Papua adalah “Mentari Harapan Baru dari Timur” yang terbit dengan gagah.

Semoga Sukses, Papua!

 

***

Berkenalan dengan Mata Uang Kripto dan Toko Token (TKO) di Tokocrypto

Monday, July 12, 2021 | at 12:43 AM

Hari-hari belakangan, kosa kata seperti Bitcoin, Ethereum, BNB, Hive, hingga Dogecoin menjadi semakin akrab di telinga kita. Yup! Betul, kata-kata tersebut adalah mata-mata uang kripto atau cryptocurrencies yang menjadi semakin populer dan familiar diperdagangkan melalui berbagai aplikasi online trading.

Seiring meningkatnya transaksi perdagangan mata uang kripto, dengan Bitcoin sebagai yang tertinggi dalam penetapan nilai tukarnya, aktifitasnya pun semakin marak dan menjangkau pengguna yang beragam di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Momentum ini tentu saja didukung oleh kemajuan teknologi informasi yang memungkinkan siapa saja terlibat dalam aktifitas perdagangan mata uang kripto ini. dengan perangkat seperti komputer, laptop, hingga ponsel pintar, seseorang dapat menjadi pelaku perdagangan ribuan mata uang digital ini. Sebut saja platform-platform tersohor seperti Binance, Coinbase, Upbit, sampai Tokocrypto yang cukup populer digunakan di Indonesia.

Mata Uang Kripto Dari Mana?

Mata uang kripto, di awal kehadirannya dianggap sebagai mata uang alternatif saja, yang diciptakan dari serangkaian kode digital tertentu, yang disebut sebagai blockchain. Teknologi blockchain memungkinkan aset digital pada tiga hal, yaitu: 1) dapat diakses real-time; 2) perubahan yang dialaminya sangat transparan; dan 3) tidak dapat diduplikasi dan dilacak pemiliknya.

Secara konsep, ide mata uang kripto bisa dilacak sejak tahun 1980-an ketika David Chaum, ilmuwan komputer dan matematikawan dari Amerika Serikat, menemukan algoritma khusus yang dikembangkannya hingga melahirkan mata uang digital bernama DigiCash pada tahun 1990-an.

Satoshi Nakamoto menjadi nama penting dalam perkembangan mata uang kripto, ketika pada tahun 2008 dia merilis buku “Bitcoin – A Peer to Peer Electronic Cash System” yang mengkonseptualisasikan blockchain dalam komputer. Di tahun berikutnya, Nakamoto mengimplementasikan blockchain pada bitcoin core yang digunakan sebagai buku besar untuk mencatat transaksi yang terjadi di dalam jaringannya. Dengan teknologi pencatatan inilah, Bitcoin (BTC) kemudian dirilis sebagai mata uang kripto pertama yang terdesentralisasi secara penuh.

Perilisan Bitcoin sebagai mata uang digital, kemudian diikuti oleh kemunculan mata-mata uang kripto lainnya. Hingga saat ini, telah terdapat ribuan jenis mata uang kripto yang bisa dipertukarkan. Beberapa yang populer, di antaranya Ethereum (ETH), BNB (BNB), Dogecoin (DOGE), Litecoin (LTC), Toko Token (TKO), dan lain-lain.

Grafik pertukaran mata uang kripto (source: tokocrypto.com)

Cara Kerja Mata Uang Kripto

Sifat mata uang kripto yang terdesentralisasi menyebabkan kontrol dan pengelolaan nilainya ada pada pengguna mata uang melalui penggunaan internet, bukan pada otoritas sebagaimana mata uang konvensional yang dikontrol oleh Bank Sentral.

Karena sifatnya yang digital, maka tentu saja uang kripto tidak memiliki bentuk fisik yang menyebabkan cara penggunaan dan penyimpanannya berbeda dengan uang konvensional yang kita gunakan sehari-hari. Begitupula dengan pertukarannya, dilakukan melalui perdagangan di dunia digital atau di dalam jaringan yang terhubung dengan internet.

Perdagangan mata uang kripto termasuk jenis investasi yang beresiko tinggi karena perubahan nilai atau harga yang terjadi bisa terjadi sangat ekstrim. Selain itu, karena aktifitasnya yang harus berada di dalam jaringan internet, perlu dipastikan langkah yang harus diambil untuk menjaga aset tetap aman dan terlindung dari kejahatan internet. Di Indonesia, nampak perlu memperhatikan legalitas perusahaan penyedia platform pertukaran mata uang digital ini, apakah telah terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan Republik Indonesia atau belum. Registrasi pada Bappebti memastikan bahwa platform yang digunakan untuk pertukaran dimiliki oleh perusahaan yang memenuhi syarat, kredible, dan bertanggung jawab.

Resiko-resiko di atas harus dipahami sebelum memulai jual-beli aset pada platform atau aplikasi perdagangan kripto. Pertukaran yang dilakukan secara digital mengharuskan seseorang membuka rekening (akun) pada platform perdagangan mata uang kripto.

Tokocrypto dan Toko Token (TKO)

Berbicara tentang platform perdagangan mata uang digital, ada Tokocrypto yang populer dan banyak digunakan di Indonesia bersama beberapa aplikasi lainnya. Mengenai pengoperasian, Tokocrypto dapat digunakan dengan basis websiste atau aplikasi pada smartphone, Android maupun iOS. Penerapannya cukup mudah dengan proses registrasi yang cepat, fitur-fitur yang membantu, dan informasi yang update pada blognya.

Dalam hal keamanan penggunaan di Indonesia, Tokocrypto merupakan platform perdagangan aset kripto pertama yang mendapatkan legalitas dengan izin pengawasan dari Bappebti dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Republik Indonesia. Jadi bisa dikatakan bahwa aplikasi Tokocrypto sudah aman dan terjamin untuk digunakan di Indonesia.

Kemudian, untuk pengembangan perdagangannya, Tokocrypto didukung dan bekerjasama dengan Binance, perusahaan dengan platform pertukaran mata uang kripto terbesar di dunia dari sisi volume. Binance juga mendukung pengembangan proyek blockchain Tokocrypto yang menghasilkan TKO sebagai salah satu aset kripto potensial untuk dipertukarkan. 

Sejak diterbitkan pertama kali, TKO menjadi aset kripto dengan model token unik yang menggabungkan konsep Decentralized Finance (DeFi) dan Centralized Finance (CeFi). Platform DeFi memungkinkan aplikasi semua bentuk layanan keuangan secara transparan, fleksibel, dan tersedia bagi siapa saja seperti pinjaman, asuransi, tabungan, dan lain-lain. Sedangkan CeFi membuka akses pada layanan seperti tabungan, penyetoran, dan pemberian cashback. Kombinasi dari dua model ini melahirkan model hybrid Centralized and Decentralized Finance (CeDeFi) yang memungkinkan lahirnya program-program seperti Lock TKO, TKO Cashback, dan lain-lain di aplikasi Tokocrypto.

Proses Registrasi di Tokocrypto

Tampilan layar registrasi pada website Tokocrypto 

Terakhir, adalah bagaimana proses mendapatkan akun di Tokocrypto. Secara sederhana, prosesnya sebagai berikut:

Proses Pendaftaran Akun

1.     Lakukan registrasi pada website Tokocrypto pada link ini.

2.    Jika memilih melakukan registrasi melalui aplikasi di Android atau iOS, silakan unduh aplikasinya, isi data, dan selesaikan registrasinya dengan klik daftar sekarang.

3.   Pastikan mengisi formulir dengan benar. Masukkan nama, nomor KTP, dan email yang valid untuk menghindari penolakan aplikasi.

4.     Cek kembali isian formulir dan klik submit atau kirim.

5.   Jika memiliki akun di Binance, pendaftaran di Tokocrypto juga bisa dilakukan dengan menghubungkan langsung akun Binance tersebut.

Verifikasi KYC

Verifikasi Know Your Customer (KYC) merupakan tahapan Otentifkasi Identitas level 1 pada Tokocrypto sebagai syarat untuk  mulai melakukan pertukaran. Namun demikian, jika hanya sampai pada verifikasi level 1, maka jumlah penarikan per hari masih dibatasi pada nilai tertentu yang dikonversi ke dalam BTC maupun BIDR. Verifikasi pada tahap lebih tinggi, yaitu level 2 memungkinan penarikan dengan jumlah lebih besar.

Berikut ini langkah verifikasi KYC di Tokocrypto:

1.      Siapkan KTP atau kartu identitas yang sesuai dengan regisrasi sebelumnya

2.      Login ke Tokocrypto dan cari menu Identifikasi Otentifikasi, kemudian lakukan verifikasi

3.      Isi informasi detail pelanggan (nama, kebangsaan, tanggal lahir, nomor telepon, dan lain-lain)

4.      Isi formulir alamat tempat tinggal

5.      Unggah KTP dan isi data yang diperlukan sesuai KTP

6.      Lakukan swafoto dengan mengikuti instruksi pada aplikasi

7.      Kirim verifikasi KYC untuk diverifikasi oleh Tim Tokocrypto (proses verifikasi 0 s.d. 7 hari)

8.  Jika verifikasi gagal, silakan ajukan kembali dengan memastikan data yang diisikan sudah benar sesuai identitas

9.      Selesai dan mulai pertukaran

Kurang lebih seperti itu informasi dan perkenalan singkat mengenai mata uang kripto (cryptocurrency) dan di platform apa pertukaran direkomendasikan untuk memulai perdagangan mata uang digital, khususnya di Indonesia.

Semoga bermanfaat dan selamat memulai trading!!


source: tokocrypto.com 

 

Suatu Sore di Rumah Juang

Sunday, July 14, 2019 | at 6:36 PM

Diskusi Panjang dan Sehari Memburu Laptop

Thursday, November 21, 2013 | at 5:15 PM


Masih berbicara tentang komputer, atau lebih tepatnya laptop dan ELS Computer. Beberapa bulan setelah pengalaman tak terlupakan memburu laptop untuk kepentingan tugas kuliahku, aku kembali berhadapan dengan pengalaman lainnya. Kali ini memang bukan tentangku, atau lebih tepatnya bukan aku yang menjadi tokoh utama dalam pengalaman itu (hahaha…). Adalah salah seorang kawanku di kosan yang juga terdesak, karena kepentingan kuliah dan tetek bengek tugasnya, segera harus membeli peralatan super penting itu.
Selama ini, dia memang menggunakan salah satu komputer atau laptop kami, anak-anak penghuni kosan, untuk menyelesaikan berbagai tugasnya. Namun, seiring dengan menumpuknya tugas-tugas kami dan tekanan yang dialami oleh beberapa penghuni kosan lainnya untuk segera menyelesaikan tugas akhirnya, si kawan ini terpaksa harus berpikir untuk membeli sebuah laptop. Dimulai dari sinilah cerita itu.
Sama saja dengan kasusku sebelumnya, kebingungan mencari merk, spesifikasi, dan terlebih harga laptop yang terjangkau kantong, juga dialami oleh si kawan ini. Mulailah dia menginterogasi satu persatu penghuni kosan mengenai merk apa yang bagus, bagaimana saja gambaran spesifikasinya, dan apakah harga laptop itu terjangkau budget yang disediakannya. Dikenal sebagai seorang yang senang berdiskusi, kawanku ini rupanya menanyai hampir seluruh penghuni kosan dengan topik dan materi yang sama selama berjam-jam setiap harinya, hampir seminggu.
Hingga akhirnya di tengah malam jumat buta, salah seorang anak kosan yang paling sering ditanyainya mulai bosan dan menyeru dengan kesal, “Wooii Bung!! Kamu ini mau beli laptop ato mau diskusi!? Perasaan dari kemarin, pertanyaanmu itu terus dan tidak ada perkembangan..”
Si kawan terdiam dan raut mukanya berubah masam hingga terlihat lucu.
“Kan sudah Ku bilang, cek saja dulu di ELS dan beberapa toko laptop biar bisa kamu bandingkan harganya..” lanjut si anak kos.
Aku hampir tak bisa menahan ketawaku melihat si kawan ini dimarahi seperti anak kecil (hahaha..). Hingga akhirnya Ku ambil inisiatif untuk bicara. Tapi harus Ku lepas dulu ketawaku.. “Hahaha.. Begini saja, besok kalian pergi sama-sama ke toko komputer buat cek harga laptopnya. Kasihan kawan kita ini, tugasnya menumpuk.”
“Kau saja yang temani, Har!!” si anak kos menolak.
“Kuliahku masih sampe habis jumatan. Kamu kan kuliah pagi doang. Habis jumat, kalian berangkatlah keliling buat cek harga. Nanti pake motorku saja, Aku bisa pulang nebeng teman.” Dia menawarkan.
Aku akhirnya tak bisa menolak. Hingga keesokan harinya kutunaikan janjiku menemani si kawan untuk cek harga laptop di beberapa toko.

ELS Computer
Harga Laptop Terbaik di ELS
Selepas jumatan, Kami akhirnya memulai perburuan laptop kami dari lokasi paling jauh, salah satu pusat perbelanjaan elektronik terbesar di Yogyakarta. Kami berkeliling lama di sini, masuk dari toko ke toko mengecek spesifikasi, membandingkan harga, dan mempertimbangkan merk. Selama berkeliling itu, kami akhirnya menetapkan dua alternatif, yaitu ACER aspire one (aku lupa tipenya) pada kisaran harga 2,6 jutaan dan ASUS 1015B yang serupa dengan punyaku pada kisaran harga 2,5 jutaan.
Kami menutup perburuan di pusat perbelanjaan itu kemudian melanjutkan perjalanan ke beberapa toko komputer lain. Di toko-toko lainnya sama saja, kami mendapatkan kesimpulan harga yang relatif sama. Kami pun akhirnya memutuskan balik saja ke kosan dan menunggu beberapa hari berharap harga laptop akan sedikit berubah. Wajah kawanku tampak sangat lemas dan sedikit kecewa.
Hingga akhirnya, entah apa yang jadi inspirasinya, dia kembali bicara dan minta ditemani ke satu lagi toko komputer untuk cek harga.
“Eh,, apa nama toko komputer yang kamu bilang dekat kos itu?? Katamu di situ yang paling murah. Kita cek yang di sana terakhir yaa.. Habis itu kita pulang. Semoga di sana ada yang lebih murah.” Dia sangat bersemangat.
ELS Computer!? Ya sudah.. Ayo!! Tapi kemugnkinan harganya sama saja.” Kataku.
Kami pun segera menuju ke ELS Computer dan tiba dalam beberapa menit. Dan benar saja, harga laptop di ELS tidak jauh berbeda. Namun, ELS memang menawarkan harga yang lebih murah dibandingkan toko lainnya. Dan kawanku sepertinya sedang beruntung hari itu.
Di ELS Computer, kami menemukan satu laptop (bukan dari dua jenis yang jadi alternative tadi) yang akhirnya menarik minatnya, ASUS Eee PC X101H dengan prosesor intel atom N435 di harga 2,1 juta. Tanpa pikir panjang lagi, langsung saja dipesannya laptop itu, meski dia belum membawa uang cash. Cocok dengan harganya, dia segera meninggalkanku untuk menarik uang di salah satu ATM dekat kampus UGM.
Dia tiba kembali di ELS Computer dengan wajah cerah dan berharap bisa segera memiliki laptop dan menyelesaikan berbagai tugasnya yang menumpuk tanpa harus sungkan dan mengganggu anak-anak penghuni kosan lagi. Menjelang maghrib, kamipun akhirnya kembali ke kos dengan hasil maksimal setelah hampir setengah hari berkeliling kota Yogyakarta memburu laptop. “Rupanya diskusi panjang selama seminggu hanya bisa diselesaikan dalam kurang dari sehari saja,” pikirku. Hahaha…

Terban, 22112013
#KontesLagi

Hehehe…

Tugas Kuliah, Laptop Murah, dan Motor Mogok

Tuesday, October 8, 2013 | at 8:56 PM


2011, dua tahun lalu, adalah pertama kali kuinjakkan kaki di kota Yogyakarta untuk memulai belajar lagi banyak hal. Dan benar saja, ada banyak pengalaman dan pelajaran baru yang kudapatkan, bahkan sejak hari-hari pertama berada di kota ini. Dari memilih kosan murah di belakang Pasar Terban, jalan kaki 45 menit ke kampus (90 menit bolak-balik setiap harinya), hingga tugas kuliah yang bikin shock.
Nah, tugas kuliah inilah yang kemudian mengantarkanku pada sebuah pengalaman unik, memburu laptop murah. Awalnya, kupikir proses kuliah akan berjalan santai dan biasa saja. Sepekan berjalan nampak tidak ada aktivitas dan materi yang serius sama sekali. Hingga masuk pekan berikutnya dan hampir semua mata kuliah mulai memberi beban serupa untuk sepekan ke depan, TUGAS. Hari masih berjalan seperti biasa hingga di penghujung pekan, mulai kupikirkan tentang tugas-tugas yang menumpuk itu. Mulai kupikirkan kalau sama sekali tidak ada komputer atau laptop yang bisa kupakai untuk mengerjakan semua tugas-tugas itu. Panik mulai menggangguku, mengingat tugas pertama harus selesai paling lambat tiga hari ke depan.
Kuputuskan untuk akhirnya membeli laptop, tapi aku belum terlalu hafal kota ini. Yang paling kukenali hanya jalan dari kosanku menuju kampus. Kuceritakan keluhanku pada kawan-kawan di kosan hingga akhirnya mereka merekomendasikan beberapa toko komputer yang tak jauh dari kosan. Di sana bisa kubandingkan harga beberapa laptop yang paling murah yang bisa kupilih nantinya.
Dari beberapa toko komputer yang disebutkan, ada satu toko yang paling direkomendasikan dengan pertimbangan harga paling kompetitifnya, yaitu ELS Computer. Jaraknya tidak jauh, sekitar 400 meter dari kosanku ke arah utara. Kata mereka, bisa kutemukan laptop murah dengan harga terendah disana. Dengan meminjam sepeda motor butut salah seorang kawan, kudatangilah beberapa toko yang direkomendasikan tadi. Harga patokan tertinggiku adalah 2,5 juta rupiah. Hingga akhirnya kutemukan laptop yang menarik minatku saat itu, ASUS 1015B warna putih dengan processor AMD C-50. Saat itu, aku belum mengerti banyak tentang spesifikasi laptop,  jadi kupilih saja berdasarkan selera dan budget yang tersedia.
Setelah membandingkan harga dari setiap toko yang kudatangi, harga di ELS Computer adalah yang paling murah untuk tipe itu. Pada saat itu harganya berkisar di angka 2,3 juta, lebih murah 100-150 ribu jika dibandingkan dengan toko lain yang kudatangi. Dengan harga segitu, kuputuskan akhirnya mengambil laptop tipe itu di ELS Computer. Namun, masalahnya stok yang tersisa tinggal satu dan aku belum membawa uang untuk bayar tunai karena niat awal yang masih ingin membandingkan harga. Aku kembali diserang panik dan memutuskan secepatnya menuju ke arah Stadion Kridosono untuk menarik uang di ATM.
Kembali kukebut motor kawanku menuju ATM hingga kutarik 2,4 juta tunai dan segera kembali menuju ke toko ELS Computer. Masalah belum selesai di situ. Di depan Pasar Terban, motornya tiba-tiba batuk dan mesinnya mati tak jauh dari gang masuk ke kosanku, bensinnya habis rupanya. Panik dan mengingat laptop buruanku, tanpa pikir panjang, kuparkir motor di depan kios penjual pulsa dan berjalan kaki lumayan jauh ke arah utara, ke ELS Computer. Hampir tiba di toko laptop itu, aku baru tersadar kalau sebelum Pasar Terban ada SPBU dan seharusnya kudorong saja motornya ke sana biar langkah ke ELS Computer lebih mudah. Panik ternyata benar-benar memusatkan fokusku pada laptop murah itu.

kawan kuliah
Laptop yang Akhirnya Terus Menemani
Aku tiba di toko itu dan laptopnya masih ada, sepertinya memang ditakdirkan bersamaku. Aku belum bertanya banyak rupanya tadi sebelum menarik uang, karena ternyata laptopnya masih belum terisi Operating System (OS) atau masih “kosongan”, istilah mereka. Aku bertanya banyak tentang bagaimana caranya agar OS-nya ada dan bisa kugunakan secepatnya. Aku menyimak dengan seksama petunjuk dari salah satu karyawan toko yang melayaniku, mendengarkan petunjuknya untuk bisa mendapatkan OS untuk laptopnya, tentu saja berpura-pura mengerti seluruhnya. Tapi sebagiannya kupaham dan dia menyarankan untuk meng-install sendiri OS-nya biar lebih murah. Kemudian aku segera menuju toko penjual dvd di mana bisa kudapatkan OS untuk mengoperasikan laptop baruku itu.
Selepas maghrib, OS-nya ku-install, dan menurutku berjalan sesuai prosedur yang kutangkap dari karyawan ELS tadi. Instalasi berhasil kuselesaikan dan dengan bangga bisa kugunakan untuk menyelesaikan tugas yang membuntutiku tepat di belakang. Untuk sementara, hanya butuh Microsoft Office untuk kebutuhanku yang mendesak, TUGAS.
Dua hari berikutnya, tugas pertama sudah selesai dengan sempurna hingga akhirnya kutemukan kembali keanehan pada laptop baruku. Ternyata partisinya cuma satu. Partisi untuk sistem sekaligus kugunakan untuk penyimpanan datanya. Tapi kubiarkan saja dulu sampai selesainya sepekan yang penuh tugas dan berkesan itu. Hingga akhirnya setelah konsultasi dengan kawanku, ku-install lagi laptopnya di akhir pekan, dengan menambahkan dua partisi yang akhirnya kugunakan sampai sekarang. Hingga selesainya seluruh tugas-tugas kuliahku, termasuk tesisku.
Pengalaman ini benar-benar tidak terlupakan bagiku. Tugas di awal perkuliahan yang mengejutkan, memburu laptop dengan budget terbatas, dan pengalaman instalasi pertamaku yang tidak langsung sempurna. Laptop ini mungkin akan ku-museum-kan suatu saat mengingat kesetiaannya menemani kuliahku dan kesan yang kudapatkan dalam proses mencarinya.

Belakang Pasar Terban, 8 Oktober 2013
#PostinganBaru
Hehehe

INTERPRETASI DAN IMPLEMENTASI KONSEP HAK ASASI MANUSIA DALAM KEBIJAKAN SOSIAL PEMERINTAH VENEZUELA

Tuesday, July 23, 2013 | at 3:52 PM

(Memperkuat Kedaulatan Negara dan Menantang Intervensi Aktor Lain)


Abstract
This article aims to explain the Venezuelan Government policy in interpreting and implementing human rights concepts. We can measure the achievement by the various policy concerning to the basic human needs issues, such a right for accessing resources, right for education, right for health, and many others. Beyond those rights, the Venezuelan Government creates more space to participate in political forum by creating social and political community to support the governments programs. The government also initiates many schooling programs for community, such human rights and political school, ideological school, and more. Those programs aim to secure the sustainability of social development in Venezuela. All programs, in turn, will initiate the society to struggle with the government to hold or defend the achievements. By these hope, the Venezuelan people can raise their pride as a sovereign nation that able to determinate their will, both in domestic and international political forums without influence or intervence of the other actors.


Pendahuluan
Dalam lebih dari satu decade terakhir, terjadi perkembangan yang sangat mengejutkan dan signifikan dalam pembangunan dan perbaikan kualitas kehidupan sosial di Venezuela. Di bawah kepemimpinan Presiden Hugo Chavez dengan Revolusi Bolivarian-nya, terjadi peningkatan yang besar dalam pemenuhan Hak-Hak Asasi Manusia (HAM) di Venezuela. Lebih dari pada itu, semakin meluas tidak hanya untuk hak sipil politik tetapi juga hak ekonomi, sosial dan budaya. Sebagaimana pernh ditegaskan oleh Duta Besar Venezuela untuk PBB, Jorge Valero, bahwa Sosialisme dan Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan dua sisi mata uang dimana keduanya akan menciptakan peningkatan kualitas dalam segala aspek kehidupan manusia.
Venezuela telah menempatkan diri sebagai pelopor dalam praktik penghormatan terhadap HAM. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintahan Hugo Chavez telah merealisasikan berbagai kebijakan terobosan yang begitu identik dengan promosi penegakan hak-hak sipil masyarakat di negaranya. Berbagai kebijakan sosial yang dikeluarkan mencerimnkan keberpihakan pemerintahan Presiden Chavez terhadap pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar dan penciptaan kebahagiaan bagi rakyatnya, khususnya rakyat miskin yang oleh rezim-rezm pemerintahan sebelumnya sering diabaikan begitu saja kepentingannya. Hal itu sesuai dengan filosofi politik dari bapak revolusi Amerika Latin, Simon Bolivar, bahwa “pemerintahan yang yang paling sempurna adalah yang mampu menciptakan sebanyak mungkin kebahagiaan bagi sebanyak mungkin rakyat.”
Isu Hak Asasi Manusia, sebagaimana kita ketahui pernah menjadi sangat hangat dalam diskusi terkait dengan perkembangan mutakhir di Venezuela. Hal ini terkait dengan pemerintahan Presiden Hugo Chavez yang oleh pemerintah negara-negara maju dianggap subversive dan otoriter, sehingga mengekang hak-hak rakyat sipil untuk terlibat aktif dalam berbagai aktivitas sosial seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya lainnya. Hal ini terkait dengan control ketat yang dilakukan oleh negara terkait dengan aktivitas ekonomi dengan kebijakan nasionalisasinya dan ruang yang tertutup bagi kesempatan lahirnya kebijakan-kebijakan yang berbau liberal atau neoliberal di negara tersebut, berikut dibatasinya aktivitas media yang kritis terhadap pemerintah.
Berangkat dari pandangan tersebut di atas, tulisan ini bermaksud untuk membuktikan bagaimanakah pemerintah Venezuela memberi makna terhadap konsepsi Hak-Hak Asasi Manusia yang telah menjadi norma universal dan bagaimana kita mengukur keberhasilan penegakan Hak-Hak Asasi Manusia tersebut?

Konsepsi Hak-Hak Asasi Manusia
HAM pada dasarnya telah berkembang sejak dimulainya modernisasi di Eropa pada abad ke-18 yang sangat dipengaruhi oleh tradisi pemikiran liberal. Meski demikian, kita tidaklah bisa mengabaikan pentingnya berbagai traktat dan peristiwa penting di masa sebelum itu yang juga berkontribusi besar bagi pembangunan Hak Asasi Manusia. Begitupula dengan tradisi pemikiran ideologi lain dalam memahami konsep Hak Asasi Manusia ini. Revolusi Industri, Revolusi Perancis, dan Revolusi Kemerdekaan Amerika adalah peristiwa-peristiwa penting yang menjadi titik tolak kita untuk memahami persoalan hak azasi ini. Dari ketiga peristiwa ini, kita bisa mengidentifikasi tentang pentingnya untuk membangun sebuah kondisi di mana manusia mendapatkan kesempatan yang sama dalam menjalankan hidupnya dan mengakses sumber-sumber daya penting untuk menjamin kelangungan hidupnya tanpa tertindas dan terintimidasi oleh orang lain yang lebih kuat.
Lebih dari itu, kesempatan tersebut haruslah diperjuangkan untuk mencapainya. Revolusi Industri sebagai contoh, memberi gambaran pencapaian perjuangan bagi tuntutan terhadap hak dan kebebasan dalam mengakses dan menjalankan aktivitas-aktivitas di bidang ekonomi secara bebas dan tanpa hambatan bagi setiap orang dan tanpa keistimewaan tertentu bagi bangsawan dan penguasa. Revolusi Perancis di sisi lain, mewujudkan berbagai kesempatan yang sama dalam mengakses dan mengelola kekuasaan dan seluruh aktivitas sosial secara luas. Hal ini kemudian tertuang ke dalam the Declaration of the Rights of Men and of the Citizen pada tahun 1789. Revolusi Kemerdekaan Amerika yang melahirkan the US Bill of Rights pada tahun 1791 mengajarkan bahwa untuk mencapai seluruh kebebasan dan kesempatan yang sama tersebut, haruslah melalui perjuangan yang panjang untuk meruntuhkan kekuasaan. Dan tidak ada sebuah bangsa pun yang berkuasa untuk menindas dan mengintimidasi bangsa lain dalam menjalankan kehidupan sosialnya. Hingga akhirnya, di zaman modern Perserikatan Bangsa-Bangsa mencetuskan UN’s Universal Declaration of Human Rights (UDHR) pada tahun 1948.
Bahkan ketika sebuah bangsa telah mencapai kemerdekaannya, bangsa-bangsa yang baru merdeka tersebut masih melanjutkan perjuangan mereka dan tuntutan bagi tersedianya kesempatan yang dalam aktivitas dan akses kebijakan dan sumber daya penting bagi kelanjutan kehidupan mereka. Hal ini sejalan dengan konsepsi hak tiga generasi yang dijelaskan oleh Chris Brown. Generasi pertama, hak-hak atau kebebasan untuk berbicara dan berserikat (freedom of speech and assembly), dan hak untuk mengambil bagian dalam pemerintahan di dalam negara sendiri, secra langsung atau melalui perwakilan yang representatif (Universal Declaration, Article 21). Generasi kedua, terkait hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya yang sangat penting bagi martabat dan pembangunan kepribadian seeorang (Article 22). Generasi ketiga menekankan hak-hak yang dibangun dalam dimensi kolektif yang berkaitan dengan hak-hak masyarakat umum, misalkan hak suatu bangsa untuk menentukan kekayaan dan sumber-sumber daya alam secara bebas (Banjul Charter di Afrika), sementara individu bertanggung jawab untuk melayani masyarakatnya dengan menempatkan kemampuan fisik dan intelektualnya pada pelayanannya.[1]
Dari perjalanan sejarah itu pula dapat dilihat bahwa Human Rights sebagai hukum universal lahir dan tidak terpisahkan dari konsep dan tradisi hak-hak asasi di Eropa yang kemudian menyebar luas ke Amerika dimana UDHR disusun dan dibangun diatas fondasi deklarasi-deklarasi hak asasi yang telah terjadi di Eropa dan Amerika. Konsep hak asasi yang berawal di Eropa dan Amerika ini kemudian diuniversalisasikan oleh PBB yang kemudian diratifikasi oleh puluhan negara. Dua ide utama yang secara garis besar diatur oleh PBB terkait Human Rights sebagai hukum universal adalah[2]:
1.      Umat manusia memiliki hak untuk hidup, hak kebebasan, keamanan dan kepastian dalam memiliki barang, adanya kebebasan dalam mengungkapkan pendapat dan hak-hak lain yang didapat dan dimiliki oleh manusia tanpa adanya persyaratan (human right as natural law).
2.      Bahwa fungsi utama dari negara adalah melindungi dan memastikan pemenuhan hak-hak dari warga negaranya tersebut.
Dalam konsepsi HAM ini, sangat jelas bahwa negara memegang peranan yang sangat penting dan determinan dalam mewujudkan penegakan hak-hak asasi manusia. Tingkatan paling krusial yang justru sering diabaikan adalah peran negara dalam pemenuhan hak-hak dasar dan hak partisipasi sosial, ekonomi, politik warga negaranya. Kita bisa melihat berbagai data yang disajikan dalam lembaga-lembaga yang concern terhadap isu-isu mengenai kemiskinan, kesehatan, pangan, pendidikan, dan hal-hal lain yang terkait dengan hak-hak dasar manusia. Dengan mengambil garis kemiskinan ekstrem yang menjadikan penghasilan 1 dolar Amerika Serikat per hari sebagai acuan, pada tahun 1990-an kurang lebih 33 persen penduduk dunia yang berada di negara-negara sedang berkembang berada dalam kesengsaraan. Sebagain besar dari mereka berada Asia Selatan, yaitu sekitar 550 juta jiwa. Angka yang lebih kecil yaitu 215 juta berada di Sub-Sahara Afrika, dan 150 juta lainnya berada di Amerika Latin.[3] Melihat fakta tersebut, dapat dikatakan bahwa penderitaan manusia yang terjadi justru akibat ketiadaan atau hilangnya fungsi negara dalam memberi jaminan pemenuhan hak-hak dasar dan perbaikan nasib warganya. Padahal hal tersebutlah yang menjadi pijakan mereka ketika mereka memutuskan untuk menuntut kemerdekaan dan melepaskan diri dari belenggu penjajahan di masa lalu.
Sebagaimana dikatakan bahwa hal tersebut terkait langsung dengan kedaulatan sebuah negara dalam mengatur dan menentukan nasibnya sendiri (self determination). Negara mempunyai hak penuh untuk melakukan apapun terkait dengan kedaulatan dan jaminan atas kedaulatannya tersebut. oleh sebab itu, penegakan nilai-nilai atau norma  universal termasuk hak asasi manusia merupakan  hal yang mutlak dilakukan baik didalam negara maupun dalam hubungannya dengan hubungan antar negara.[4] Hal ini tentunya untuk menjamin eksistensi sebuah negara dari ancaman dan intervensi dari aktor dan negara lain akibat melihat berbagai kerapuhan internal negara tersebut.
Kerapuahn-kerapuhan internal yang terjadi bisa dijadikan sebagai jalan masuk oleh rezim-rezim hak-hak asasi manusia untuk memberi tekanan terhadap sebuah negara. Budi Winarno menjelaskan bahwa isu-isu legal mengenai ratifikasi perjanjian dan interpretasi terhadap klausul-klausul tertentu biasanya mengemuka untuk dijadikan sebagai dasar tindakan yang umumnya terkait dengan penderitaan warga sipil domestik yang kemudian mengangkat persoalan-persoalan legal politik seperti kepatuhan (compliance) ke permukaan.  Pada akhirnya hal ini akan menimbulkan isu-isu politik luar negeri, apakah hal tersebut akan diimplementasikan atau dirumuskan dalam sebuah bentuk kebijakan dalam membuat undang-undang terkait hak-hak asasi manusia tersebut.[5] Pada tahap inilah biasanya sebuah kepentingan aktor lain dipenetrasikan untuk masuk ke dalamnya, misalnya terkait dengan kepentingan ekonomi dan perdagangan.
 Untuk itu, sangat penting bagi sebuah negara untuk menghindari menguaknya isu hak-hak asasi ini agar tidak menjadi jalan masuk bagi pengaruh aktor lain di dalam berbagai kebijakan sebuah negara. Dua hal yang umumnya dilakukan adalah pertama, menutupi atau melokalisasi berbagai persoalan dan kerapuah sosial yang terjadi di suatu negara dengan berbagai tindakan yang lebih opresif bagi peluang-peluang terkuaknya maslaah tersebut. Kedua,  secara serius melakukan perbaikan-perbaikan sosial yang menutup kemungkinan bagi celah pembahasan persoalan hak-hak asasi manusia di level domestic maupun internasional. Pebaikan-perbaikan ini disertai kemudian dengan penyebarluasan konsep dan makna hak-hak asasi yang sejati ini ke seluruh lapisan masyarakat melalui proses edukasi yang sistematis. Hal ini dimaksudkan agar individu-individu dapat menilai dirinya sendiri, apakah hak-haknya telah terpenuhi atau tidak. Manusia yang telah menyadari hak asasinya diharapkan bisa berusaha menjaga sendiri hak asasinya tersebut, sekaligus menghormati hak asasi manusia lain.

Prestasi Pemenuhan HAM di Venezuela
Menanggapi konsepsi hak-hak asasi manusia di atas, penulis mencoba melihat fakta-fakta actual yang terjadi di Venezuela sebagai sebuah prestasi atau pencapaian tersendiri dalam mewujudkan penegakan dan pemenuhan hak-hak asasi manusia yang palig mendasar. Pemerintah Hugo Chavez di Venezuela berhasil dalam melakukan perbaikan-perbaikan sosial dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya melalui pemenuhan hak-hak dasar seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan, nutrisi, dan sebagainya. Begitupula dengan hak dalam partisipasi politik dan upaya untuk menjamin kesadaran HAM yang berkelanjutan melalui sekolah HAM dan Politik. Berikut ini penulis sajikan capaian-capaian pemerintah Venezuela dalam penegakan HAM di negaranya.
1.      Pemenuhan Hak-Hak Dasar
Melihat konsepsi tentang Hak-Hak Asasi Manusia, khususnya terkait dengan pemenuhan hak-hak dasar untuk bertahan hidup, Venezuela telah mencapai suatu prestasi yang baik. Venezuela, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Komisi Ekonomi Untuk Amerika Latin Dan Karibia (ECLAC), diketahui telah mengalami penurunan angka kemiskinan dari 48,6% pada tahun 2002 menjadi 27,6% pada tahun 2008.[6] Selain itu, ECLAC juga menemukan fakta-fakta lain bahwa pada tahun 2010, Venezuela merupakan negara dengan tingkat ketidakseimbangan distribusi pendapatan paling kecil di antara negara-negara di kawasan Amerika Latin lainnya.
Capaian lain pemerintah Venezuela adalah di bidang pendidikan. Kebijakan pendidikan Venezuela secara konstitusional diorientasikan untuk membawa para pelajar ke dalam tiga tahapan, yaitu : bebas buta-huruf (misi Robinson 1), sekolah dasar dan menengah (misi Robinson 2/misi Ribas), dan pendidikan tinggi (misi Sucre). Hasilnya bisa dilihat dari laporan UNESCO tentang partisipasi pendidikan di Venezuela menyatakan bahwa pada tahun 2010, tingkat partisipasi pendidikan tinggi di Venezuela adalah 83%.[7] Hal ini terkait dengan upaya untuk mewujudkan sebuah tujuan besar, yaitu mencapai pertumbuhan sosial, budaya, pendidikan, lingkungan, dan institusional, yang pada akhirnya bertujuan untuk mencapai pembangunan negara. Hal tersebut menunjukkan lompatan Venezuela yang telah beranjak jauh dari pencapaian negara-negara dunia ketiga lainnya dalam hal partisipasi pendidikan. Saat ini, Venezuela bahkan telah menempati posisi kelima di dunia dan kedua di antara negara-negara Amerika Latin setelah Kuba dalam hal pengembangan pendidikan dan kebudayaan.
Sementara itu, capaian di bidang kesehatan dapat diukur langsung dari sistem kesehatan publik yang dijalankan langsung di Barrio (setingkat desa/kelurahan di Indonesia) dengan bantuan dokter dan ahli-ahli kesehatan terlatih dari Kuba dalam program Mission Barrio Adentro. Dalam satu decade terakhir, pusat-pusat pelayanan kesehatan gratis untuk rakyat Venezuela sudah mengalami peningkatan drastis  dari 4.000 menjadi 13.000 pusat pelayanan. Bahkan dalam tujuh tahun, setidaknya 11.500 pusat kesehatan berhasil dibangun di seluruh Venezuela.[8] Ini juga termasuk pusat diagnose dan berbagai fasilitas yang melebihi klinik dasar. Pintu layanan kesehatan Barrio Adentro selalu terbuka untuk rakyat setiap hari dan setiap saat.
Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika keseriusan pemerintah Venezuela dalam mengelola dan memenuhi kebutuhan kesehatan rakyatnya kemudian mendapat respon yang massif. Selama periode 2003 sampai 2010 terdapat sekitar 432 juta kunjungan dari rakyat ke klinik-klinik yang melayani kesehatan gratis. Lebih jauh lagi, pemerintah Venezuela juga menyediakan operasi mata gratis kepada rakyatnya melalui program “Mission Miracle”.
Dalam hal pemenuhan hak atas pangan dan nutrisi, data dari Istitute Nasional Venezuela untuk Nutrisi (NIN) menunjukkan bahwa rata-rata asupan kalori rakyat Venezuela mengalamai peningkatan sebesar 27% dari tahun 1998 sampai 2009, yakni dari 2,202 menjadi 2,790% per hari. Asupan kalori per kapita di Venezuela berada jauh di atas target asupan kalori yang ditetapkan FAO, yakni 2,100. Bahkan jumlah anak-anak yang mengalami kekurangan gizi pun berkurang sebesar 58,5% selama satu dekade terakhir.[9]
2.      Pemenuhan Hak Politik
Terkait dengan pemenuhan hak politik, rakyat Venezuela memberi dukungan yang sangat besar  bagi demokrasi di negaranya. Hal ini nampak dari telah diselenggarakannya 16 proses electoral sejak revolusi pertama kali bergulir pada tahun 1998. Menurut Dewan Pemilihan Nasional Venezuela, partisipasi rakyat dalam pemilihan presiden mengalami peningkatan dari 54% pada tahun 1998 menjadi 74% pada tahun 2006.[10] Konsitusi Bolivarian, khususnya pasal 67, sangat menghormati partisipasi warga negara dalam Pemilu. Di dalam pasal tersebut, rakyat dapat terlibat aktif dalam aktivitas politik dengan mengajukan diri sebagai anggota partai politik. Rakyat bahkan bisa dicalonkan melalui individu dari organisasi-organisasi sosial.
Hak untuk berpartisipasi yang lain disediakan bagi warga melalui sejumlah proses politik seperti pemilu legislative, referendum, pengadilan terbuka, dan dewan rakyat. Di samping itu, dalam bidang sosial dan ekonomi, rakyat diberi kesempatan untuk ikut terlibat dalam bentuk kemandirian individu atau pun kerja sama di bidang koperasi simpan pinjam dan sebagainya sebagai proses kebebasan dalam mengakses berbagai sumber daya ekonomi untuk bertahan hidup dan memperbaiki kualitas kehidupan sosialnya.
3.      Sekolah HAM dan Politik untuk Memperkuat Kekuasaan Rakyat
Dalam menjamin eksistensi penegakan dan pemenuhan hak-hak asasi manusia di Venezuela, peerintah kemudian menginisiasi program sekolah hak asasi manusia secara gratis bagi para pekerja sosial dan aktivis komunitas yang selama ini mengkampanyekan Hak Asasi Manusia. Program ini dirancang untuk membantu mereka menyelesaikan persoalan hak asasi manusia di masing-masing komunitas. Lebih dari itu, tujuan dari sekolah HAM ini adalah untuk membongkar visi hak asasi manusia yang berakar dari tradisi liberal, individualis, dan reduksionis, di samping untuk membangun budaya sadar HAM yang berkelanjutan bagi rakyat Venezuela sendiri.
Di samping sekolah HAM tersebut, pemerintah Venezuela juga memperkuat kekuatan dan kesadaran rakyat melalui pendidikan politik ideologis yang dilakukan oleh INCES, sebuah institute yang bergerak di bidang pendidikan dan pelatihan bagi kaum sosialis. Pelatihan bertujuan untuk membangun kesadaran revolusioner dan ideologis dalam menerima tanggung jawab sebagai alat pembebasan yang mampu mentransformasikan sistem produksi tradisional dari kapitalisme menjadi sistem ekonomi yang humanis, adil, serta egalitarian. Program lain dari INCES adalah pendidikan politik jangka panjang yang disebut Sekolah untuk Penguatan People Power yang menyediakan pelatihan bagi unsur-unsur pokok yang mewakili beragam kelompok seperti para juru bicara dewan komunal, keuangan, dan lembaga-lembaga kebudayaan bahkan bagi kelompok professional seperti dokter, pengecara, sebagaimana juga diberikan kepada kelas buruh tradisional, termasuk juga para pekerja di perusahan negara. Tujuannya untuk menciptakan barisan pekerja sosialis yang memberikan contoh mengenai konsep kerja yang berakar pada komitmen pada kebaikan sosial bersama.

Kedaulatan yang Terjamin
Dengan berbagai capaian-capaian terkait penegakan dan pemenuhan hak-hak asasi manusia di Venezuela tersebut, pada dasaranya bermakna banyak hal. Pertama, entitas negara mewujudkan kehadirannya sebagai pelindung dan penjamin hak-hak sosial rakyatnya sebagaimana umumnya dicita-citakan ketika menuntut kemerdekaan dan self determination. Kedua, negara berhasil memperkuat kedaulatan dirinya dari ancaman intervensi aktor-aktor dan negara lain, khususnya negara hegemon yang memungkinkan menjadikan isu hak-hak asasi manusia sebagai jalan masuk bagi pengaruhnya. Ketiga, kekuatan kedaulatan negara menjadi jauh lebih kuat dengan dukungan dari rakyat di grass root akibat berbagai pemenuhan hak-hak dasar dan kebutuhan sosial, berikut jaminan akses bagi sumber-sumber sosial, ekonomi, dan politik yang berhasil diwujudkan oleh negara. Dengan sendirinya, rakyat akan berjuang bersama pemerintahnya dalam mempertahankan capaian-capaian dan jaminan tersebut.




[1] Chris Brown, Human Rights, dalam Baylis, John and Steve Smith (eds.), 2003, The Globalization of World politics; an Introduction to International Relations oxford University Press. Hal. 600.
[2] Ibid Hal. 604.
[3] Budi Winarno.2007. Globalisasi dan Krisis Demokrasi. Media Pressindo, Yogyakarta. Hal. 73.
[4] Aleksius Jemadu. 2008. Politik Global dalam Teori dan Praktek. Penerbit  Graha Ilmu Yogyakarta. Halaman 278.
[5] Budi Winarno, 2008, Isu-Isu Global Kontemporer (Handout). Program Studi Ilmu Politik Konsentrasi Studi Hubungan Internasional, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Unpublished. Hal. 87.

[6] Are De Peskim, Revolusi Bolivarian dan Capaian Penegakan HAM Di Venezuela, http://berdikarionline.com/opini/20111128/revolusi-bolivarian-dan-capaian-penegakan-ham-di-venezuela.html, diakses pada tanggal 29 Desember 2011.

[7] Odalys Troya Flores, Pendidikan di Amerika Selatan: Pararelisme dan Perbedaannya, http://berdikarionline.com/dunia-bergerak/perubahan-di-amerika-latin/20120103/pendidikan-di-amerika-selatan-pararelisme-dan-perbedaannya.html, diakses tanggal 1 Januari 2012.

[8] Ulfa Ilyas, Dokter Komunitas dan Revolusi Kesehatan di Venezuela, http://berdikarionline.com/dunia-bergerak/perubahan-di-amerika-latin/20111113/dokter-komunitas-dan-revolusi-kesehatan-di-venezuela.html, diakses tanggal 1 Januari 2012.
[9] Ibid (De Priskim).
[10] Ibid. 


#Paper Seminar Isu-Isu Global Kontemporer, Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dimuat juga di Tamalnarea School, Pusat Studi Globalisasi dan Hubungan Internasional.