Program Pasca Sarjana Fisipol Luluskan 71 Lulusan | Faculty of Social and Political Sciences
Friday, May 10, 2013 | at 2:10 AM
Resensi Buku : Hidup di Atas Patahan
Wednesday, January 9, 2013 | at 5:26 AM
Labels:
(Bukan) Resensi,
Refleksi
Judul Buku : Hidup di Atas Patahan
Penulis : Anwar Jimpe Rahman
Penerbit : Insist Press
Bulan/Tahun : November 2012
ISBN/BAN : 978-602-8384-55-1
Tebal Buku : cover + iv + 110 Halaman
Merubah dari Bawah; cerita yang
diulang[1]
Oleh
: S. Idris[2]
Tulisan ini sebenarnya jauh dari “layak”
untuk disebut sebagai resensi buku. Alasannya sederhana, saya sama sekali telah
melupakan pelajaran sekolah dulu mengenai syarat-syarat sebuah resensi buku.
Ketika tulisan ini dibuat, saya memutuskan untuk tidak mencoba mengingat lagi
atau sekedar mencari tahu lebih jauh persoalan syarat-syarat tersebut dan
memilih melanjutkan saja tulisan singkat ini. Misinya: melanjutkan niat
sederhana penulisan buku yang sedang dibahas ini, semoga kita bisa saling
belajar.[3]
Adalah sebuah kehormatan
besar bagi saya secara pribadi mendapat kesempatan untuk menuliskan sebuah
resensi (kalau bisa disebut begitu) bagi buku pertama Anwar Jimpe Rahman (Kami
terbiasa memanggil dengan sapaan akrab, Kak Jimpe). Sms Kak Jimp Selasa siang,
30 Oktober 2012, “Bisako bikin
resensi Hidup di Atas Patahan? Mau ditayangkan di http://makassarnolkm.com..:-)”.
tanpa pikir panjang langsung kubalas, “Iye’,
kak.. Sy usahakan”. Beberapa saat kemudian barulah saya dipusingkan saling
sambungnya tulisan Kak Jimpe ini dengan kajian dan bacaanku di mana? Paradigma
Ilmu Hubungan Internasional mainstream
yang kugeluti, biasanya menempatkan para tokohnya di sebuah tahta di awan untuk
mengamati dan menjelaskan berbagaai peristiwa dan kejadian besar di muka bumi
(itupun dengan syarat harus lintas batas negara) kemudian dihadapkan pada
sebuah cerita berparadigma grassroot yang
jarang diperhatikannya padahal secara langsung maupun tidak langsung menjadi
implikasi dari aksi dan kebijakan yang lahir dari penjelasannya.
***
Buku ini dengan bahasa ringan
menarasikan mengenai pengalaman dan perjuangan penanganan (pencegahan) bencana
di tiga lokasi, Bengkulu Utara, Sinjai, dan Maluku Tenggara. Tulisan ini tentu
tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai bencana yang disebabkan oleh
paradigma, struktur dan mekanisme kerja dunia dan institusinya yang memang
kacau balau. Hal itu memang tidak dibahas di buku ini. Buku ini menceritakan
heroisme dan perjuangan inspiratif dari orang-orang dan lembaga-lembaga akar
rumput yang “bergerilya” tak kenal lelah menemukan solusi pencegahan bencana di
daerah basis kegiatan mereka.
Tiga hal menarik (dari
perspektif ku) yang wajib untuk dikabarkan dari buku ini adalah heroisme para
penggiat basis ini, peran negara dan birokrasinya yang rumit, dan gerakan atau
inisiatif rakyat itu sendiri. Pertama, saya ingin memberikan klaim
bahwa aktivitas para penggiat dan pemerhati masalah akar rumput ini adalah
sebuah bentuk heroisme yang langka. Tidak banyak orang yang mau menghabiskan
waktu dan energinya untuk bahkan sekedar besaling-sapa dan mendengar keresahan
orang kecil. Tapi mereka, nama-nama yang banyak disebut di buku ini, bersama
dengan masyarakat dan tokoh-tokoh pemerintahan yang peduli mau mengambil
tanggung jawab besar dengan merancang sebuah formula bagi pencegahan bencana di
lokasi-lokasi basis aktivitas mereka.
Lihat saja apa yang
dilakukan Nurkholis Sastro dan Hambali di Bengkulu Utara, salah satu daerah
yang paling rentan gampa dan tsunami di Indonesia. Sastro, dalam naungan Warsi
–sebuah lembaga pemerhati lingkungan— telah beraktivitas selama tiga tahun
dalam mendampingi Desa Pondok Kelapa dan Kecamatan Lais untuk upaya-upaya
pencegahan bencana. Bersama dengan Sastro, Hambali dan lembaga Mitra Aksi yang
dibentuknya berjuang memasukkan materi kebencanaan sebagai mata ajar muatan
lokal di dalam kurikulum pendidikan di Bengkulu Utara.
Cerita dari Sinjai
kurang lebih senada. Ada sosok Pak Daming, pembiak tanaman organic dan pengajar
di SMP Satap Tassoso, yang menjadi “rekan” lokal tim Pengurangan Resiko Bencana
(PRB) Payo-Payo yaitu Agung, Dedy, dan Imran. Tim tersebut berbasis di Makassar
dan butuh waktu tempuh lebih kurang lima jam dan jarak 200-an kilometer untuk
mencapai Sinjai, lokasi aktivitas mereka setiap pekannya. Selain soal jarak dan
waktu tempuh, persoalan birokrasi juga menjadi tantangan lain bagi usaha tim
PRB Payo-Payo ini bersama dengan kepentingan politik yang sangat acak dan
momentum Pilgub Sulsel.
Sedangkan di Maluku
Tenggara, ada cerita perjuangan Fritz Elmas dan Uly dari Yayasan Nen Mas Il
(YNMI), bersama Pak Nor, Edo Rahail, dan Pieter Elmas untuk menjamin
kelangsungan bagi tersedianya sumber air pulau-pulau atol (karang) provinsi itu.
Kisah suksesnya adalah mereka berhasil menarik simpati lembaga legislatif, DPRD
Maluku Tenggara hingga mampu terus mendesak pemerintah daerah untuk
memperhitungkan aspek kearifan lokal dalam berbagai bidang kegiatan masyarakat
maupun pemerintah. Meski tetap saja mereka mendapat tantangan dari paradigma
proyek pemerintah dan seringnya tidak nyambung
dengan kebijakan pemerintah pusat.
Semua cerita-cerita
tersebut menjelaskan bahwa ada sekelompok manusia yang memang memiliki niat
untuk bekerja dan belajar bersama orang kecil dan membuat perubahan-perubahan
sederhana namun bermakna. Kisahnya sangat kecil kemungkinan untuk dikabarkan
jika mengharapkan media massa untuk melakukannya. Media cenderung mengangkat
berita tentang bencana ketika dia telah terjadi dan membawa korban –istilah
buku ini “paradigma keperistiwaan”, bukan menyorot cerita sukses pencegahan dan
pembangunan pola pikir baru berdasarkan kearifan masyarakat setempat.
Kedua,
mengenai persoalan peran negara dan birokrasinya yang sangat rumit menjadi
kendala dan tantangan tersendiri bagi para hero
dalam buku ini. Menyoroti peran negara, tiga hal penting yang bisa dicatat
dalam buku ini yaitu : kapasitas negara (pemerintah) yang tidak mengenal dan
memahami daerah dan wilayahnya bergelut dengan keangkuhan pemerintah pusat,
paradigma proyek pemerintah dalam menjaankan tugas kenegaraan dan kesan lepas
tangan dari masalah bencana pasca-proyek, dan tentu saja birokrasi yang rumit
dan berbelit.
Cerita di Sinjai dan
Maluku Tenggara mungkin bisa mewakili catatan pertama. Tahun 1980-an,
pemerintah mencanangkan program berlabel “Sejuta Pinus” di daerah Kompang,
Sinjai yang memiliki tingkat kemiringan tinggi. Bagi pemerintah, program
tersebut bisa berarti sebagai upaya pemberdayaan lahan yang ditinggalkan warga
akibat pemindahan paksa pemukiman ke tepi jalan untuk kepentingan strategis
pengawasan militer lebih kurang 20 tahun sebelumnya. Selain itu, tentu saja
getah pinus merupakan komoditas berharga bagi pengusaha karet nasional kroni
Orde Baru masa itu. Namun demikian, dampaknya baru terasa sejalan 20 tahun
program tersebut ketika daerah Kompang yang tingkat kemiringannya tinggi
tersebut menjadi neraka akibat longsor pada tahun 2006 silam.
Membandingkan ide
“Sejuta Pinus” pemerintah dan argumen orang kecil seperti Pak Asikin Pella,
nampak tidak fair. Meski demikian,
ada logika lain yang terbangun dalam ucapan Pak Asikin, bahwa sesungguhnya
pohon pinus merupakan tumbuhan yang bisa merubah siklus air dikarenakan
struktur akar tunggangnya yang menancap dalam ke tanah. “Dengan begitu, tanah
menyerap air, yang dengan demikian sewaktu-waktu air tertampung banyak sehingga
menyebabkan retak/pecahnya tanah” kata Pak Asikin.[4]
Kurang lebih senada,
Kepulauan Kei di Maluku Tenggara yang terbentuk dari pulau-pulau atol kini harus menghadapi ancaman
kekurangan air bersih akibat pertumbuhan populasi dan pemukiman berikut semakin
dibukanya lahan hutan. Sementara itu, pemerintah meresponnya dengan mengirimkan
bibit jati putih yang merupakan tanaman penyerap air yang banyak. Padahal,
sudah sejak lama Kei dikenal sebagai penghasil kayu besi terbaik. Blunder
pemerintah ini bisa saja menspekulasikan berbagai motif, namun tetap perlu
pembuktian lebih. Hal terpenting yang bisa dipetik dari cerita ini bahwa
pemerintah masih saja angkuh dan merasa lebih mengerti seluruh dunia daripada
orang-orang kecil yang bergulat dengan praktik kearifan lokal berbasis
pengalaman puluhan hingga ratusan tahun di kesehariannya.
Kedua cerita di atas
juga sekaligus ingin menunjukkan paradigma dan pendekatan penyelesaian masalah
pemerintah dalam kebencanaan yang berpola proyek. Ketimbang memberdayakan
masyarakat lokal dan memberikan dukungan bagi rencananya, pemerintah memilih
menjalankan sendiri programnya dengan angkuh. Lelucon lebih parah terjadi di
Bengkulu Utara ketika pada tahun 2011, pemerintah daerah Bengkulu membangun
sebuah gudang logistik yang kemudian ditolak oleh Badan Penanggulangan Bencana
Daerh (BPBD). Penolakan itu didasarkan pada lokasi bangunan yang hanya berjarak
seratus meter dari bibir pantai, pembangunan yang melanggar UU Pokok Kehutanan
No. 41 tahun 1991 tentang sempadan pantai. Pembangunan gudang logistik di tepi
pantai daerah yang rentan gempa dan tsunami benar-benar lelucon pemerintah dan
hanya menampakkan ketidak-seriusan negara dalam pencegahan bencana.
Kedua catatan tersebut
menjadi semakin rumit jika dihadapkan pada persoalan birokrasi yang berbelit.
Persoalan mutasi sebagai wajah baru birokrasi di Indonesia akibat Pemilihan
Kepala Daerah (Pilkada)berimbas kepada start baru dan pendekatan dari nol lagi
kepada aparat pemangku ebijakan sebagaimana dikeluhkan oleh Fritz Elmas, Uly,
dan Pak Nor di Maluku Tenggara. Pak Nor, aparat BPBD Maluku Tenggara, bahkan
galau akan “menguap begitu saja”-nya ilmu penanganan dan pencegahan bencana
yang selama ini diperolehnya akibat mutasi jabatan yang diperolehnya.
Kegelisahan yang sama
mungkin dirasakan juga oleh tim PRB Payo-Payo di Sinjai. Betapa tidak, berbagai
kegiatan yang mereka lakukan haruslah mendapat izin atau paling tidak
sepengetahuan pihak pengambil kebijakan di lngkungan Pemerintah Kabupaten
Sinjai. Persoalannya adalah kesepahaman yang tidak pernah terjadi di antara
mereka dikarenakan dua hal. Pertama, jarang hadirnya pihak pengambil kebijakan
dalam setiap rangkaian kegiatan ataupun pertemuan PRB. Kedua, arogansi dan
mentalitas feodal pihak pengambil kebijakan tersebut yang menolak mendapatkan
wawasan dan ide segar dari generasi yang lebih muda. Buku ini mengutip kalimat
ketus petinggi Pemda Sinjai bahwa “dalam adat kita, seorang anak tidak pantas mengajari
orangtuanya!”.[5]
Kita tidak lagi hidup di jaman seperti itu, bukan?
Meski demikian, secara
fair harus diakui tetap saja ada orang-orang yang memiliki kepedulian di dalam
lingkaran pemerintah dan birokrasinya yang serba rumit dan berbelit itu. Kita tentu
tidak melupakan sosok Pak Nor, aparatur BPBD Maluku Tenggara, mantan staf Dinas
Pekerjaan Umum, dan mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan, yang sudah
dibicarakan dari tadi. Di tanah yang sama, ada Pieter Elmas dan Edo Rahail yang
mendukung penuh kegiatan dan usaha pencegahan dan penanganan bencana di Maluku
Tenggara. Di Bengkulu Utara, ada Kardo Manurung, Kepala SMA 1 Lais, bersama
guru-guru yang dinaunginya yang berjuang memsukkan unsur kebencanaan sebagai
materi ajar muatan lokal di dalam kurikulum pendidikan sekolah di Bengkulu
Utara. Kita tentu tidak melupakan kerja keras Pak Daming, Ibu Guru Anti, Pak
Bahar, Kasim, dan yang lainnya di Sinjai.
Ketiga,
hal terakhir yang ingin saya catatkan di sini adalah penegasan bahwa gerakan
dan inisiatif dari bawah masih merupakan metode paling efektif untuk
menggerakkan perubahan, dalam bentuk apapun. Hal ini tentu saja berdasarkan
pada gagasan sederhana bahwa mereka yang bekerja lebih dekat dengan objek lebih
memahami dan mengerti kebutuhan mereka untuk bertahan dan melanjutkan hidup.
Dengan sendirinya, akan terbentuk kearifan-kearifan berikut nilai-nilai dan
pranata untuk menjamin kelangsungan kehidupan tersebut dan melindunginya dari
ancaman.
Namun, tentu saja ada
keserakahan manusia lain yang senantiasa mengincarnya. Apalagi yang melatarinya
kalau bukan motivasi ekonomi. keserakahan yang terkadang berselingkuh dengan
keangkuhan negara dan kebebalan aparatnya. Dengan restu kekuasaan, maka atas
nama perubahan, kemajuan, dan modernisasi, kearifan berikut sistem nilai dan
pranatanya tersebut menjadi target untuk dimusnahkan. Maka perubahan dan
kemajuan apakah yang dicita-citakan negara dengan merusak struktur sosial
secara paksa yang telah berjalan sekian lama? Bukankah mereka yang merasakannya
lebih mengerti kebutuhan mereka?
Maka, apa yang
dibutuhkan oleh negara –jika memang negara itu ada, dan bukan merupakan agensi
dari kepentingan bermotif ekonomi yang mengendalikan dunia—adalah meninggalkan
keangkuhannya dan belajar bersama rakyatnya untuk memahami kebutuhan paling
riil dalam mewujudkan perubahan dan kemajuan. Memaksakan perubahan yang tidak
diinginkan masyarakat hanya akan menggoreskan luka dan lama-kelamaan akan
membangun sebuah neraka yang menyengsarakan rakyat.
Sebuah kritikan tentu
saja bahwa perubahan sejatinya lahir dari gerakan dan inisiatif sederhana
berbasis kebutuhan riil masyarakat ketimbang usaha penyeragaman dunia dalam
sebuah kebijakan setelah menatapnya dari sebuah tahta di atas langit. Bukankah
dunia yang lebih berwarna itu indah? Mari sama-sama belajar.
[1] Judul ini
diangkat untuk mengingatkan bahwa telah ada begitu banyak cerita tentang
keberhasilan perubahan yang dilahirkan gerakan atau inisiatif dari bawah dan betapa
seringnya cerita-cerita itu diulang. Namun, elit bahkan negara berikut para
petingginya tetap saja pada keangkuhan dan kebebalannya untuk menerima
kenyataan tersebut. Mereka masih saja merasa paling mengerti seluruh dunia
beserta isinya daripada orang-orang yang mereka anggap kerdil.
[2] Sering main di
Tamalanrea School, Pusat Studi Globalisasi dan Hubungan Internasional.
[3] Pesan sederhana
namun penuh makna ini adalah kalimat terakhir yang ditegaskan oleh penulis
buku, Anwar Jimpe Rahman di bagian synopsis, halaman sampul belakang buku Hidup
di Atas Patahan.
[4] Anwar Jimpe
Rahman, 2012, Hidup di Atas Patahan, Yogyakarta: Insist Press. Hal. 66.
[5] Ibid. Hal. 54.
CERITA DARI KULONPROGO; (Refleksi Perjuangan Melawan Penambangan Pasir Besi, 1 April 2012)
Tuesday, January 8, 2013 | at 3:42 PM
Labels:
Coret Lepas,
Jogja (on) My View,
Refleksi
Lautan massa tumpah
ruah di jalanan sempit sepanjang jalan menuju pantai Glagah, Kulonprogo pagi
itu. Pawai manusia dan konvoi kendaraan tak teratur tapi saling mengiringi
menuju satu titik acara di sebuah lahan kososng tepat di tepi jalan raya. Teriakan-teriakan
saling bersahutan dengan deru suara knalpot mobil dan sepeda motor yang digas
kencang. Orang-orang ini tampak sangat antusias dan bersemangat mengikuti acara
itu.
Semakin dekat dengan
titik lokasi acara, sayup-sayup terdengar salawatan, ganti-gantian dengan
lantunan ayat-ayat Al Qur’an yang dilagukan di sebuah panggung sederhana. Semakin
dekat dengan titik acara, nampak lautan manusia yang semakin ramai pula. Ribuan
orang melibatkan diri dalam acara besar di hari itu, menurut seorang tokoh
pemuda. Sebuah perayaan, pesta rakyat, hari ulang tahun Paguyuban Petani Lahan
Pantai (PPLP) Kulon Progo, Yogyakarta.
Keriuh-ramaian itu
seperti pesta rakyat biasa saja, jika melihat tampakannya. Tenda terpal yang
luas mengatapi hamparan tikar pandan dan karpet-karpet pinjaman dari mesjid
desa sebagai stage untuk peserta
acara. Sebuah panggung kecil dan sederhana dengan latar spanduk kain bertulis
huruf dari guntingan kertas.
Tapi, bagi masyarakat
pesisir Kulon Progo, acara itu jauh lebih istimewa daripada sekedar pesta
rakyat dan perayaan ulang tahun paguyuban biasa. Acara adalah panggung teriakan
dan pekikan perjuangan masyarakat pasisir Kulon Progo yang terancam oleh
penambangan pasir besi di sepanjang pesisir selatan Kulon Progo. Acara itu
adalah panggung bagi tuntutan-tuntutan dan penolakan bagi beroperasinya
perusahaan penambang pasir besi di daerah mereka.
Hari itu, 1 April 2012,
enam tahun telah berjalan sejak pertama kali didirikannya Paguyuban Petani
Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo. Di tanggal yang sama pada tahun 2006,
masyarakat di 4 kecamatan dan 10 desa di Kabupaten Kulon Progo menginisiasi dan
membentuk organisasi perjuangan yang bersifat independen. Organisasi ini
bertujuan dan berkepentingan untuk menjaga dan mempertahankan fungsi ekosistem
dan mata pencaharian warga sebagai petani lahan pantai. Artinya, penolakan bagi
aktivitas penambangan pasir besi di daerah mereka.
| Baliho peringatan HUT ke-6 PPLP Kulon Progo |
Simbol
dalam Coretan
Penolakan mereka
tergambar dalam dari spanduk-spanduk yang terpajang di lokasi acara. Di Spanduk
penyambutan, tertulis “Tolak Tambang Pasir Besi Kulon Progo Tanpa Kekerasan”.
Masuk di pintu penyambutan terpamapang sebuah lukisan yang berisi kritikan
terhadap feodalisme dan kekuasaan di D.I. Yogyakarta yang tidak menunjukkan
keberpihakannya kepada rakyat dan menjadi pintu masuk modal dan investasi untuk
aktivitas penambangan.
Di panggung sederhana
itu sendiri, selain ucapan selamat hari ulang tahun bagi PPLP Kulon Progo,
sebuah tulisan yang mengukuhkan sikap mereka terhadap aktivitas penambangan
mengikuti sebagai tema. Tulisan “Diam Menakutkan, Bergerak Mematikan; Bertani
atau Mati” menegaskan pilihan mereka untuk bertani dan merdeka di atas tanah
mereka sendiri daripada mati perlahan sebagai buruh pertambangan. Atau mati
sekalian di ujung peluru aparat dan preman penjaga tambang itu.
Di sisi kanan panggung,
satu lagi karya seni menggambarkan berbagai dampak aktivitas penambangan jika
terus dilanjutkan. Rusaknya ekosistem di laut dan darat, memudarnya relasi
sosial masyarakat, dan hilangnya kedaulatan mereka atas pangan. Di bagian atas
karya itu tertulis kalimat “Berdiri Di Atas Kekuatan Pangan Sendiri” sebagai
penegasan bahwa mereka tidak butuh pertambangan dan janji-janjinya akan
pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik. Hidup mereka telah terjamin dari
lahan-lahan gersang yang mereka sulap menjadi produktif dan olah dengan
kekuatan mereka sendiri. Kebutuhan hidup mereka telah lebih dari tercukupi.
Who Needs Mining???
Acara berjalan dengan
susunan acara yang dipenuhi sambutan dan orasi-orasi yang bernada sama. Kepala
Desa, Mahasiswa, Ustadz, Tokoh-Tokoh Masyarakat, dan Pemuda menyampaikan
tuntutan yang sama. Mereka menolak dan melawan penambangan pasir besi tentu
saja. Mereka menuntut pembebasan Tukijo, seorang tokoh masyarakat yang
ditangkap dan dikriminalisasi dengan tuduhan pencemaran nama baik, yang bersama
mereka memimpin penolakan tambang pasir besi. Bahwa mereka akan mempertaruhkan
nyawa untuk bertahan dan dari penggusuran. Bahwa mereka adalah pemilik sah dari
tanah-tanah yang diklaim penguasa feodal sebagai miliknya.
Mereka meneriakkan
bahwa mereka hanya ingin hidup sederhana dan tidak terusik oleh apapun. Mereka
sangat nyaman hidup seperti adanya, sebagai petani. Kebutuhan mereka terpenuhi,
bahkan lebih dari cukup. Relasi sosial terjalin solid, kuat, dan semua orang
nyaman berada di dalamnya. “Kami baik-baik saja dengan keadaan kami!!!” teriak
seorang tokoh pemuda di atas panggung. So,
who needs mining??
Kapitalisme
Lagi
![]() |
| long life rebellions!!! |
Secara pribadi, yang
menarik minatku adalah seorang ibu rumah tangga yang berteriak dan membicarakan
kapitalisme dan neoliberalisme di atas panggung. Dia meneriakkan bahwa kondisi
yang terjadi adalah akibat keserakahan kapitalisme dan pandangannya terhadap
manusia yang hanya sebagai bagian dari factor produksi. Tidak berbeda dari
mesin-mesin, modal, dan objek tambang itu sendiri.
Yaa.. semoga kita tidak
melupakannya. Bahwa perlawanan ini terjadi secara esensial terhadap
kapitalisme. Sejarah telah merekam tumpukan peristiwa di mana kapitalisme bisa
melindas apa saja yang menghalanginya, tak terkecuali manusia dan peradaban.
Sejarah juga telah merekam bahwa manusia telah melawan kapitalisme sejak
masa-masa awal kelahirannya. Kapitalisme dilahirkan dengan perlawanan dan
penolakan atas dirinya sendiri.
Cerita perlawanan
penambangan pasir besi Kulon Progo sekali lagi menjadi bukti bahwa telah immanent
di dalam tubuh kapitalisme, perlawanan itu pasti dan harus ada.
Kosan
Pak Slamet, 16 April 2012
#Tulisan ini adalah tulisan lama yang pernah dipublikasikan di kahaba.info
Mengajak ke Yogya Lewat Media Sosial Komunitas
Tuesday, December 18, 2012 | at 7:47 AM
Labels:
Jogja (on) My View
Media sosial telah menjadi fenomena tersendiri
hari ini. Kehadirannya telah menjadi sarana yang digunakan secara massif untuk mejalin
hubungan pertemanan dan jaringan. Kita mengenal berbagai media sosial seperti Facebook, Twitter, Plurk, Skype, hingga media sosial yang berbasis
komunitas seperti Couchsurfing. Kehadiran
berbagai media tersebut seolah telah memindahkan sebagian besar aktivitas
manusia ke dalamnya. Kita tidak bisa menghitung berapa banyak urusan yang
selesai hanya melalui kesepakatan yang berlangsung di dalam media sosial
tersebut. Urusan jual-beli, rencana reuni, rencana jalan-jalan, dan sebagainya
bisa berawal dari wacana yang muncul di media sosial.
Satu hal yang unik bahwa pertemanan,
relasi, ataupun jaringan yang terbangun akibat kehadiran media sosial ini
adalah sebuah hubungan yang sangat plural dan multikultural. Kita bisa dengan mudah menemukan
pertemanan di antara orang-orang dari berbagai warna kebudayaan, suku, bangsa,
negara, hingga generasi bertaut dan berinteraksi di dalamnya. Melalui media
sosial itu pula kita bisa melihat berbagai pertukaran terjadi yang membuat
setiap detil informasi mengalir dengan cepat dan bisa menjangkau seisi planet.
Anomali media sosial
![]() |
| Pertemanan lintas kultur |
Kehadiran media sosial menjadi jauh
lebih istimewa karena kemampuannya menciptakan sebuah anomali dalam cara
kerjanya. Di satu sisi, media sosial mampu menciptakan sebuah eksklusifitas
sebagai akibat dari pergerakan informasi yang cepat dan keterbatasan manusia
untuk mengimbanginya. Keterbatasan manusia tersebut menempatkannya pada kebutuhan
untuk memilih pertemanan atau jaringan berdasarkan segmentasi tertentu seperti
urusan pekerjaan, kampus, klub olahraga favorit, minat, ideologi, dan hobi. Maka
mulailah terbentuk komunitas-komunitas virtual dengan basis segmentasi
tersebut.
Menariknya, meski membentuk ekskusifitas
di satu sisi, media sosial tersebut tetap tidak kehilangan karakter yang mampu
membentuk pola hubungan pertemanan yang melintasi banyak hal di sisi yang
lainnya. Dia tetap mampu menghadirkan pertemanan lintas kultur, lintas
generasi, lintas pulau, hingga lintas batas negara. Jadi, pilihan kemudian
tergantung kepada setiap manusia untuk masuk ke dalam komunitas berdasarkan kebutuhan
atau kesenangannya. Bagi mereka yang bisa saling menjangkau di dunia nyata,
biasanya akan membentuk komunitas-komunitas yang lebih kecil dalam lingkup
spasial (wilayah) di mana mereka bisa saling menjangkau secara fisik (baca:
kopi darat) dan meningkatkan intensitas relasi.
Mengajak Ke Yogya
Gagasan untuk memanfaatkan media sosial
komunitas sebagai sarana mengajak orang untuk mengunjungi Yogyakarta sangat
banyak berangkat dari berbagai pengalaman yang penulis amati di media sosial,
khususnya media sosial yang memang concern
dalam membentuk komunitas seperti Plurk.com ataupun Couchsurfing.org. Kedua media
sosial ini, bagi penulis mewakili kedua anomali media sosial di atas yang
sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai media promosi maupun ajakan untuk saling
mengunjungi.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri,
terdapat komunitas yang terbentuk dari popularitas media sosial ini, yaitu
Jogjaplurkers dan Couchsurfing (Cs) Jogja. Mereka menjadi bagian yang mewarnai
komunitas plurker maupun Cs di berbagai daerah di Indonesia dan negara-negara
di seluruh dunia yang anggotanya mencapai jutaan orang.
Dibandingkan dengan komunitas di media
sosial lain, komunitas plurker dan Cs sebenarnya memiliki tingkat intensitas ketemuan
(kopi darat) yang tinggi. Komunitas-komunitas ini dalam banyak momen
mewacanakan sebuah rencana gathering bahkan
event berawal dari sebuah thread di
plurk atau Couchsurfing. Dari situ respon bersambut hingga terjadilah acara gathering atau event-nya. Meski dibuat untuk kalangan komunitas sendiri, tapi
tidak jarang ada teman atau komunitas yang sama dari daerah atau luar negeri
yang ikut menikmati suguhan acara tersebut.
Hal itulah yang menjadi concern dari
tulisan ini, bahwa meski eksklusif, ternyata ada hal positif yang bisa diambil.
Selain frekuensi kopi darat atau gathering
yang tinggi, intensitas silaturahmi atau kedekatan dengan komunitas yang
sama dari tempat lain juga tinggi. Oleh sebab itu, bagi komunitas plurker atau
Cs, tradisi saling mengunjungi dan menyambut sangat dijunjung. Hal inilah yang
seharusnya bisa didorong untuk dikembangkan oleh banyak pihak untuk tujuan
pariwisata.
Ketika seseorang atau rombongan komunitas
mengunjungi sebuah kota seperti Yogya misalnya, tentu saja mereka ikut menyasar
untuk menikmati suasana kota dan berbagai objek wisata atau event yang sedang dilaksanakan di sana. Pikiran
yang sama tentu saja dialami oleh komunitas penyambut bahwa selain gathering,
mereka ingin menjadi tuan rumah yang baik dengan menunjukkan kebanggaan objek
wisata di kotanya ataupun di sekitarnya yang bisa dijangkau. Bisa juga dengan
mengajak ke event yang sedang
berlangsung.
| Sambutan Prambanan yang Agung |
Komunitas dan Informasi
Arti penting dari komunitas seperti
Jogjaplurker dan Cs Jogja yang bisa diberdayakan untuk tujuan pariwisata adalah
kapasitasnya untuk menjadi media informasi dan promosi pariwisata Yogyakarta. Hal
ini tentu saja berdasarkan pada pandangan awal bahwa pilihan seseorang untuk
masuk dan bergabung ke dalam suatu komunitas di media sosial dikarenakan
kebutuhannya akan informasi tertentu. Kenyataannya, komunitas seperti
Jogjaplurker dan Cs Jogja memang melakukan hal tersebut. Informasi mengenai event ataupun gathering, meski masih terbatas, biasanya disediakan sejak
jauh-jauh hari.
Hal menarik bahwa informasi tersebut
telah disampaikan sejak jauh-jauh hari memberikan ruang atau kesempatan bagi teman
atau komunitas dari tempat lain untuk mempertimbangkannya. Dengan sebuah
unggahan poster atau panflet event misalnya,
bisa mengundang respon yang panjang di dalam sebuah thread di plurk.com atau
Couchsurfing.org. Hal minimal yang bisa diambil adalah animo atau perhatian
dari banyak orang dengan lintas latar belakang terhadap rencana kegiatan tersebut.
Pemerintah yang
Menyambut
![]() |
| Yogya yang siap menyambut |
Potensi inilah yang sebenarnya penting
untuk didorong dan diberdayakan oleh pemerintah dalam mengundang dan menarik minat
wisatawan dalam mengunjungi Yogyakarta. Tidak ada salahnya Pemerintah Provinsi D.I.
Yogyakarta ataupun Pemerintah Kota Yogyakarta menyambut berbagai komunitas berbasis
media sosial ini untuk kepentingan pariwisata Yogyakarta sendiri. Pemerintah
bisa memulai dengan mengajak mereka berpartisipasi dalam merencanakan maupun
mengorganisir sebuah event sederhana
atau sekedar gathering untuk membangun ikatan kekeluargaan yang kuat.
Dengan sambutan dari pemerintah,
komunitas ini paling tidak bisa mempromosikan rencana-rencana pariwisata di Yogyakarta
lebih massif daripada keterbatasan yang sebelumnya mereka alami. Jika sebelumnya,
informasi diperoleh bisa jadi hanya secara insidental saja mealui browsing internet ataupun panflet yang
ditemui di dinding yang kemudian dijepret kamera ponsel seadanya, kali ini bisa
lebih serius karena memang berasal dari sumber informasi yaitu pemerintah.
Pada akhirnya, memang harus diakui bahwa
meskipun kecil, komunitas ini memiliki peran dalam mengajak atau mempromosikan
Yogyakarta sebagai tujuan wisata yang ramah. Dan dengan kapasitas yang
dimilikinya dalam berjejaring, pemerintah bisa memaksimalkan potensi media
sosial komunitas ini dalam promosi. Pemerintah hanya perlu mengapresiasi dan
menyambut mereka.
S. Idris,
Kali Code, Desember menjelang tengah malam.
#Akhirnya menulis lagi. Insya Allah bermanfaat.
ASEAN Community: We Feeling dan Tantangan bagi Indonesia
Friday, May 11, 2012 | at 8:13 PM
Menjelang Informal ASEAN Ministerial
Meeting, kembali mengemuka wacana mengenai ASEAN Community yang dicita-citakan
terbentuk dan berlaku pada tahun 2015. Pertanyaan besar yang belum terjawab
adalah bagaimana kesiapan negara-negara anggota ASEAN untuk menuju kesana? Lebih
jauh, pertanyaan besar mengenai bagaimana peran Indonesia dalam posisinya
sebagai pemimpin ASEAN 2011 ikut mengemuka.
Untuk mempersatukan keragaman yang dimiliki
oleh setiap negara anggotanya, ASEAN Community 2015 dirancang untuk dibangun di
atas tiga pilar utama, yaitu Economy Community, Security Community, dan
Socio-Cultural Community. Dengan demikian, ASEAN Community akan menjadi
komunitas regional besar dengan bidang cakuan yang sangat luas, jauh lebih luas
dibandingkan Uni Eropa yang berbasis pada Masyarakat Ekonomi Eropa yang
melandasinya ketika pertama kali terbentuk.
Dalam perjalanannya yang hampir setengah
abad sejak didirikannya pada tahun 1967, ASEAN mampu mengambil peran besar
sebagai pengikat negara-negara di regional Asia Tenggara. Hasilnya adalah
pembangunan, tingkat kemakmuran yang membaik, dan stabilitas regional yang
terkontrol. Atas dasar keberhasilan capaian-capaian inilah kemudian negara-negara
ASEAN bertekad untuk lebih memperkuat dan melembagakan dirinya dalam cakupan
yang lebih luas dalam bentuk ASEAN Community pada tahun 2015 mendatang.
Tantangan-Tantangan
Terbentuknya ASEAN Community, tentunya
akan semakin mempertegas kebangkitan Asia dalam peta ekonomi politik global menyusul
kedigdayaan ekonomi China, India, dan tentu saja Jepang yang telah bangkit
lebih dahulu.
Sekarang tinggal bagaimana ASEAN, dalam
hal ini negara-negara anggotanya berkomitmen untuk menerapkan setiap
kesepahaman yang dihasilkan dalam setiap pertemuan yang diadakan oleh ASEAN.
Menurut Dr. Makarim Wibisono dalam Seminar Tantangan Kepemimpinan ASEAN dalam
Perspektif Indoneia di UGM, ada sekitar 600 sidang yang masuk dalam agenda
kegiatan ASEAN dalam setahun. Dalam keseluruhan pertemuan atau sidang yang
telah diadakan, paling tidak menghasilkan sebuah kesepahaman yang menuntut
untuk segera ditindaklanjuti sebagai bagian dari komitmen tersebut, baik itu
dalam bentuk deklarasi, resolusi, maupun piagam.
Kendala internal justru muncul dalam
bentuk masalah implementasi berbagai kesepahaman tersebut. Kita bisa melihat
bagaimana AFTA yang diharapkan menjadi penopang Economy Community masih
tertatih dan bebebrapa negara terlihat masih menutup akses dan melakukan
proteksi terhadap produk-produk terbaiknya, ketika pasar Indonesia telah dibuka
lebar. Begitupula dengan ASEAN Regional Forum sebagai mekanisme keamanan
kawasan yang diharapkan menjadi pilar Security Community, justru tidak mampu
menyelesaikan sengketa-sengketa yang terjadi di antara negara-negara
anggotanya. Sebagai contoh, kasus candi di perbatasan Kamboja-Thailand yang
malah berakhir ke International Court of
Justice karena lambannya penanganan di tingkat ASEAN. Belum lagi saling
klaim budaya antara Indonesia dan Malaysia yang sering memicu ketegangan di
kalangan masyarakat kedua negara. Begitupula dengan sengketa-sengketa lain di
bidang lain yang dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian, walaupun kita
menyakini ada usaha yang telah dilakukan, yang dapat memicu berbagai prasangka
di antara negara-negara anggota ASEAN dan dikhawatirkan dapat menghambat
terwujudnya ASEAN Community 2015.
Kendala-kendala tersebut belum termasuk
masalah-maalah dalam negeri di setiap negara anggota yang masih berkutat pada
masalah sosial, seperti kemiskinan, demokrasi, dan masalah disintegrasi yang terjadi hampir di seluruh
negara anggota ASEAN. Begitupula di tingkatan yang lebih tinggi di Asia, di
mana China, India dan Jepang semakin kukuh dalam berbagai bidang.
We
Feeling
Bagi negara-negara ASEAN, bangkit
bersama dalam ASEAN Community bisa mempercepat langkah mereka untuk menyusul
ketiga negara pemain kunci dalam ekonomi politik Asia tersebut. Dengan luas
wilayah 4,46 juta km2 dan jumlah penduduk hampir mencapai 600 juta
jiwa (8,8% dari jumlah penduduk dunia), ASEAN menjadi sangat potensial untuk
menjadi kelompok regional yang berpengaruh dalam menentukan peta ekonoomi
politik global, mengingat pasarnya akan diincar oleh negara-negara lain. Di
situlah ASEAN bisa menawarkan kepentingannya dalam menentukan arah peta ekonomi
politik global.
Demi mewujudkan ASEAN Community, setiap
negara anggota sudah sepantasnya untuk membangun apa yang disebut “rasa
kekitaan” atau yang kita kenal sebagai We
Feeling dalam istilah ASEAN. We
Feeling sangat mutlak sebagai spirit sekaligus prasyarat bagi pembentukan
ASEAN Community.
Hambatan-hambatan dalam implementasi
berbagai kesepahaman selama ini terjadi karena segala hal tersebut hanya
terhenti pada ranah proses politik. Sementara itu, dibutuhkan proses inteaksi
sosial sebagai tindak lanjut dari proses politik tersebut. Proses interaksi
sosial dalam hal ini adalah bagaimana masyarakat atau orang-orang dari setiap
negara ASEAN bisa bertemu, berinteraksi dan saling menyapa dengan meninggalkan
identitas nasional mereka dan merasakan dan mengatakan dengan bangga bahwa
“kami adalah ASEAN”. Proses inilah yang akan membangun kokoh fondasi We Feeling.
Key-Role Indonesia
Dalam konteks ini, Indonesia, selain
sebagai pemimpin ASEAN 2011 juga mengingat tingkat interaksi masyarakat
Indonesia yang besar karena jumlah penduduknya yang mencapai sepertiga jumlah
penduduk ASEAN, dituntut untuk berperan maksimal.
Di tingkat nasional, Pemerintah
Indonesia memikul tanggung jawab besar untuk melakukan sosialisasi mengenai
ASEAN Community kepada sekitar 200 juta penduduknya dengan mempromosikan We Feeling yang akan mendorong integrasi
ASEAN nantinya. Prakarsa Indonesia dalam sosialisasi ASEAN Community di dalam
negerinya akan semakin kuat jika ditindaklanjuti dengan promosi kepada seluruh
negara-negara ASEAN untuk melakukan hal yang sama di negara mereka.
Peran strategis Indonesia dalam
mendorong tahapan-tahapan ini sangat diharapkan mengingat pengalaman-pengalaman
masa lalu dan tentu saja nama besar Indonesia jugalah yang mendorong prakara
terbentuknya ASEAN hampir separuh abad silam.
Inilah kesempatan bagi pemerintah dan
masyarakat Indonesia untuk kembali ke pentas global dan memainkan peranannya
seperti di masa lalu.
#Setelah sekian lama absen, akhirnya memulai lagi..
Subscribe to:
Posts (Atom)





