Vlaams Belang merupakan salah satu partai politik yang ada di Belgia dengan aliran atau garis politik yang ekstrim nasionalis, bahkan cenderung radikal. Sejarah didirikannya partai politik ini (Vlaams Belang) bermula sebagai wadah atau kendaraan politik yang membawa kepentingan orang-orang Flandria, wilayah negara Belgia yang dihuni oleh penduduk yang kebanyakan berbahasa Belanda.Berangkat dari sejarah inilah, maka partai ini dinamakan sebagaiVlaams Belang, artinya kepentingan Vlaanderen (orang-orang Flandria). Tuntutan utama yang coba untuk diartikulasikan adalah menuntut kemerdekaan bagi wilayah Flandria. Seperti apa yang ada dalam kenyataan, bahwa wilayah yang bernama Flandria tersebut merupakan wilayah yang sangat kaya raya akan berbagai sumber kekayaan alam, akan tetapi memperoleh perlakuan yang berbeda dari Pemerintah Negara Federal Belgia dengan penduduk yang menghuni wilayah Walonia yang miskin di dekat Perancis.
Kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Negara Federal Belgia mengenai wilayah Walonia yang lebih diperhatikan bukan tanpa alasan. Pemerintah federal berasumsi bahwa daerah Walonia yang relatif miskin, lebih butuh suntikan dana dari Brussel daripada wilayah Flandria yang kaya. Warga Flandria sendiri bahkan menganggap diri mereka sebagai donatur warga Walonia. Akan tetapi, bagi sebagian orang di Flandria, hal tersebut tidaklah adil mengingat kedua wilayah seharusnya mampu mengurus diri sendiri, apalagi mereka berada dalam payung negara federal. Dari situlah asal seruan yang semakin kuat di kawasan Flandria untuk bersikap keras dan keluar dari negara federasi Belgia. Partai Vlaams Belang kemudian mengambil peran sebagai motor penggerak dalam upaya realisasi seruan tersebut.
Perbedaan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah federal di Brussel ini kemudian memberikan dampak yang lebih luas dengan tercipta dan semakin kuatnya semangat etnonasionalisme orang-orang Flandria. Ibukota Brussel acapkali menjadi ajang pertikaian bahasa. Dengan 35 kotamadya di sekitarnya, ibukota Belgia itu menjadi sebuah distrik khusus dengan dua bahasa. Dalam Pemilihan Umum misalnya, Partai Vlaams Belang dengan garis politiknya yang ekstrim kanan mencoba memanfaatkan keadaan yang kritis seperti ini. Dengan memanfaatkan etnonasionalisme yang sudah terbentuk pada masyarakat wilayah Flandria, mereka menyuarakan untuk sebuah pemisahan diri (disintegrasi) keluar dari negara federasi Belgia. Walaupun hal tersebut hanya menjadi suatu bualan politik saja mengingat sebagian besar politisi Flandria, khususnya yang berasal dari partai-partai tradisional sama sekali tidak ingin memisahkan diri, karena itu berarti resiko politik dan keuangan yang besar.
Di wilayah Flandria, tidak hanya terdapat satu partai saja (Vlaams Belang), akan tetapi masih ada beberapa partai tradisional yang jauh lebih realistis dalam memberikan seruan politiknya. Partai-partai tradisional tersebut juga semakin gencar menyerukan soal kepentingan "nasional" warga Flandria. Akan tetapi, mereka tidak mendukung ide pemisahan diri Flandria yang kaya atau penghapusan negara federal Belgia, melainkan mereka menuntut wewenang lebih bagi pemerintah regional atau secara halus disebut distrik. Hal ini terutama mengenai wewenang atau hak pada sektor sosial-ekonomi seperti kesehatan dan lapangan pekerjaan.
Mengingat urgensi dan sentralnya wacana pembagian wewenagn ini bagi Belgia sendiri dan dampaknya secara langsung terhadap wilayah lainnya, yaitu Walonia, maka para politisi berbahasa Prancis di negara bagian Walonia dengan tegas menyatakan ketidaksepahamnya dengan hal ini. Mereka menganggap seruan ini lebih sebagai usaha rahasia untuk menggerogoti negara federal Belgia, terutama di bidang keuangan. Ini sekali lagi menunjukkan bobot pertikaian politik tersebut, namun bukan isinya. Diskusi yang sudah lama tentang pembagian wewenang antara pemerintah regional dan federal Belgia sebenarnya berkisar tentang uang. Flandria tidak ingin menginvestasi uang yang tidak perlu untuk kawasan Walonia yang struktur ekonominya lemah.
Menentang “Islamisasi Eropa”
Sebagaimana umumnya partai atau kelompok nasionalis yang ekstrim, Vlaams Belang menentang sangat keras goncangan atau goyangan ideologis yang bisa merusak atau mengancam keseimbangan dalam sistem politik mereka, apalagi kemungkinan akan adanya sistem tandingan yang lebih baik yang dapat mengancam eksistensinya, khususnya dalam merebut dukungan mayoritas dari warga negara. Partai Vlaams Belang mengidentifikasi salah satu masalah adalah perkembangan islam, khususnya di Eropa. Kelompok sayap kanan ini takut akan adanya kebangkitan Islam di Eropa yang ditandai dengan menguatnya kekuatan politik muslim di sejumlah negara Eropa.
Bagaimanapun, secara historis, islam pernah menjadi kekuatan yang menakutkan secara politik terhadap pemerintah negara-negara Kristen di Eropa pada masa lalu. ketakutan akan kebangkitan Isam sebagi kekuatan politik ini tentunya bisa mengancam eksistensi partai-partai nasionalis garis keras, tidak hanya di Belgia, melainkan di seluruh Eropa. Maka wajar saja jika muncul berbagai aksi massa "menentang Islamisasi Eropa" yang berlangsung di beberapa negara, termasuk di Brussels ibukota Belgia. Aksi tersebut umumnya disertai dengan bentrokan antara aparat kepolisian dan peserta aksi untuk mempertegas sikap dan penolakan mereka terhadap islamisasi Eropa.
Sikap yang dimiliki oleh partai ekstrim kanan, khusunya Vlaams Belang dengan ketakutannya terhadap islam sebenarnya sangat tidak beralasan. Alasan sesungguhnya adalah bahwa mereka berusaha untuk tetap mengikat simpati rakyat Belgia di wilayah Flandia yang umumnya masih ortodoks dengan ke-Kristen-an mereka dan menjadikan Islam sebagai alasan untuk bersatu. Selanjutnya melempar dan mengaikan berbagai wacana yang menyerang Pemerinah federal Belgia dengan mengatakan ketidakberpihakan Pemerintah terhadap kepentingan dan aspirasi masyarakat di Flandria.
Dengan demikian, dapat menjadi satu alasan utama pemisahan diri wilayah Flandria dari negara federal Belgia dan mereka, Vlaams Belang sudah ada di front terdepan sebagai pemimpin. Jadi, seandainya kemudian partai-partai tradisional Flandria memilih untuk berubah sikap,maka mereka akan terkesan mengikut pada garis perjuangan Vlaams Belang. Karena sesungguhnya, pencitraan perjuangan untuk kemerdekaan wilayah Flandria sudah dimiliki mutlak oleh Vlaams Belang.
Setelah Perang Dunia kedua, menjadi era baru dalam tatanan interaksi transnasional khususnya bagi negara-negara di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Masa tersebut merupakan masa dekolonisasi bagi penjajahan bangsa-bangsa Barat untuk kemudian menciptakan tatanan dunia yang dihuni oleh orang-orang yang sama dan sederajat menurut harkat dan martabat kemanusiaan. Banyak negara di Afrika, Asia, maupun Amerika yang memperoleh kemerdekaannya begitu saja sebagai sebuah hadiah pemberian pemerintah negara penjajahnya. Akan tetapi, sebagian yang lainnya memperolehnya melalui jalan perjuangan panjang yang memakan banyak biaya, materi, dan moral.
Bagi negara-negara yang baru merdeka tersebut, tentunya berada dalam kondisi sedang mencari konsep atau sistem yang ideal untuk diterapkan dalam sistem politik dan pemerintahan negaranya kelak. Beberapa negara mungkin memiliki konsep sistem ideal yang akan diterapkannya, apalagi bagi mereka yang memperoleh kemerdekaannya melalui perjuangan panjang dan melelahkan. Akan tetapi, konsep yang dikembangkannya umumnya berideologi sosialis yang berakar dari bacaan-bacaan para founding father-nya mengenai anti penindasan, konsep kebebasan menentukan nasib sendiri sebagai sebuah nation-state, dan penolakan terhadap eksploitasi imperialisme. Hal ini kemudian akan membenturkannya pada sebuah tembok negara-negara maju penentu arah pertumbuhan dunia yang tidak menyepakatinya karena perbedaan ideologisehingga dengan mudahnya memicu konflik internal di dalam negara tersebut. Sementara sebagian besar yang lainnya sangat kabur dan tidak mempunyai visi dan konsep yang ideal akan dibawa ke mana negara baru yang dinaunginya, yang diperolehnya secara tiba-tiba sebagai pemberian penjajah barat pasca dekolonisasi.
Konsep Developmentalisme
Negara-negara maju kemudian menawarkan sebuah konsep yang dianggap baik untuk diterapkan dalam sistem pemerintahan di negara-negara yang baru saja memperoleh kemerdekaannya. Sebuah konsep pembangunan (developmentalisme) yang dianggap mampu untuk memperbaiki kehidupan sosial masyarakat negara-negara dunia ketiga. Pembangunan ini dianggap sebagai upaya-upaya untuk memperoleh kesejahteraan atau taraf hidup yang lebih baik. Dengan bantuan melimpah dari Amerika Serikat dan organisasi swasta, satu generasi baru ilmuwan politik, ekonomi, dan para ahli sosiologi, psikologi, antropologi, serta ahli kependudukan menghasilkan karya-karya disertasi dan monograf tentang Dunia Ketiga. Negara-negara maju kemudian merekomendasikan pilihan untuk beralih dan menerapkan konsep pembangunan kepada negara-negara berkembang guna mewujudkan tujuan negaranya dalam menciptakan kesejahteraan bagi penduduknya.
Para penganut teori ini percaya bahwa segala sesuatu menuju perubahan dapat dicapai dengan pembangunan (developmentalisme). Mereka juga meyakini bahwa tradisionalisme dianggap sebagai masalah dan harus disingkirkan segera (Mansour Fakih). Pemahaman akan pembangunan ini kemudian diasumsikan dapat menjadi solusi dari berbagai macam persoalan sosial di negara-negara berkembang seperti kemiskinan, keterbelakangan, dan berbagai masalah ekonomi lainnya.
Pembangunan atau developmentalisme sebagai sebuah ideologi mulai dicanangnkan di akhir Perang Dunia Kedua sebagai agenda untuk menyelamatkan Eropa dan seluruh dunia dari pengaruh sosialisme dan komunisme yang didegungkan oleh Uni Soviet. Amerika Serikat kemudian tampil di depan sebagai penyokong utama agenda developmentalisme ini. Pada tahun 1950-an Amerika Serikat menjadi pemimpin dunia sejak pelaksanaan Marshall Plan yang diperlukan membangun kembali Eropa Barat setelah Perang Dunia Kedua.
Sementara itu, Uni Soviet juga telah melakukan perluasan komunisme di seantero jagad. Uni Soviet memperluas pengaruh politiknya sampai di Eropa Timur dan Asia, antara lain di Cina dan Korea. Hal ini mendorong Amerika Serikat untuk berusaha memperluas pengaruh politiknya selain Eropa Barat, sebagai salah satu usaha membendung penyuburan ideologi komunisme.sementara itu, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin sedang bertumbuh banyak negara-negara baru yang sedang berusaha mencari model-model pembangunan yang bisa digunakan sebagai contoh untuk membangun ekonominya dan mencapai kemerdekaan politiknya. Dalam situasi dunia seperti ini bisa dipahami jika elit politik Amerika Serikat memberikan dorongan dan fasilitas bagi ilmuwan untuk mempelajari permasalahan Dunia Ketiga. Kebijakan ini diperlukan sebagai langkah awal untuk membantu membangun ekonomi dan kestabilan politik Dunia Ketiga, seraya untuk menghindari kemungkinan jatuhnya negara baru tersebut ke pangkuan Uni Soviet (Arief Budiman).
Para ahli, dengan pandangannya masing-masing, secara umum memaparkan tentang konsep pembangunan negara seperti yang pernah dialami oleh maysarakat di negara-negara Eropa, khusunya Eropa Barat. Mereka pada umumnya berasumsi bahwa negara-negara berkembang pada hari ini sedang berada pada level yang pernah pula dialami oleh negara-negara Eropa beberapa abad sebelumnya. Oleh sebab itu, untuk berdiri sejajar dengan masyarakat dan negara-negara maju di Eropa dan Amerika Utara, dibutuhkan sebuah pengelolaan sistem politik dan pemerintahan yang sistematis dan berkelanjutan bagi negara-negara dunia ketiga tersebut. Hal ini sekaligus membicarakan dan merumuskan strategi dan perencanaan pembangunan, perdagangan internasional, transfer teknologi, investasi, yang kesemuanya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di negara-negara Dunia Ketiga. Beberapa ilmuwan seperti WW Rostow, Micahel Todaro, Arthur Lewis, Hollis Chenery, Everett Hagen dan sebagainya memberikan argument-argumen tersendiri mengenai hal tersebut.
Pada tahun 1960-an, ahli sejarah perekonomian dari Amerika Serikat WW Rostow menyarankan bagi negara-negara Dunia Ketiga untuk mengikuti tahap pertumbuhan ekonomi (the stages of economic development), yaitu :
1.Tahap Masyarakat Tradisional (Traditional Society)
2.Tahap Masyarakat Transisi (Transitional Stage) dan Persiapan untuk Tinggal Landas
3.Tahap Tinggal Landas (Take Off)
4.Tahap Gerakan Menuju Pematangan (Drive to Maturity)
5.Tahap Komsumsi Massa Tingkat Tinggi (High Mass Consumption)
Tahapan seperti disebutkan di atas pernah dialami oleh sebagian besar negara-negara Eropa dalam perkembangannya hingga menjadi seperti sekarang ini. Hal ini pulalah yang diharapkan untuk dapat diikuti oleh negara-negara Dunia Ketiga agar dapat mengejar ketertinggalannya dari negara-negara maju di Eropa dan Amerika. Akan tetapi, tanpa disadari bahwa hal inilah yang kemudian menjadi titik kritik dari teori dan ideologi developmentalisme ini. Overgeneralisasi yang terjadi dan keyakinan buta akan mampu diterapkannya model pembangunan seperti ini ke semua negara di seluruh dunia menjadikannya gagal dalam mengatasi permasalahan yang kemudian terjadi dan semakin membesar. Begitupula bahwa konsep pembangunan tersebut harus mengabaikan analisa mengenai potensi alam, karakter, perilaku dan watak masyarakat serta lingkungan di mana teori tersebut akan diterapkan. Setiap negara diajak untuk bermimpi menjadi negara industry maju dengan standarisasi dan visualisasi seperti yang ada di Eropa dan Amerika Utara. Maka wajar saja jika setiap negara hendak menjadi seperti Amerika dan Jerman yang maju dalam industry berat seperti elektronik dan mesin-mesin, dan kendaraan dengan mulai meninggalkan cara hidup tradisional seperti bertani dan berkebun, walaupun negara-negara tersebut memiliki potensi dalam bidang tersebut.
PembangunanIsme Indonesia
Pembangunan dalam arti di atas di mulai di Indonesia sejak awal 1970-an di masa-masa awal berkuasanya rezim Orde Baru. Ketika dalam sebuah kunjungannya ke Indonesia, WW Rostow merekomendasikan teorinya untuk diterapkan di Indonesia. Penguasa Indonesia pada masa itu, Soeharto, menyambut baik usulan Rostow, maka jadilah kebijakan-kebijakan ekonomi politik Orde Baru selanjutnya mengikuti arus aliran developmentalisme. Pemerintah Indonesia pada masa itu kemudian meminta saran dan usulan dari beberapa pakar (teknokrat), yang dikemudian hari begitu dominan dalam menentukan arah dan kebijakan politik Orde Baru. Mereka yang kemudian dikenal sebagai “Mafia Barkeley” seperti Ali Murtopo, Sudjono Humardhani, dan sebagainya tersebut merumuskan berbagai kebijakan pembangunan yang akan diaplikasikan dalam pelaksanaan sistem pemerintahan di Indonesia. Gagasan mereka dianggap akan mampu menyelamatkan Indonesia dari “sakitnya” akibat keterlibatannya dengan pengaruh ideologi komunisme semasa Orde Lama.
Gagasan dan teori pembangunan ini kemudian bahkan telah dianggap sebagai “agama baru” karena mampu menjanjikan untuk dapat memecahkan masalah-masalah sosial seperti kemiskinan dan keterbelakangan yang dialami oleh berjuta-juta masyarakat di Indonesia. Istilah pembangunan atau development tersebut telah menyebar dan digunakan sebagai visi, teori, dan proses yang diyakini kebenaran dan keampuhannya oleh masyarakat secara luas. Setiap program Pembangunan menunjukkan dampak yang berbeda tergantung pada konsep dan lensa Pembangunan yang digunakan (Mansour Fakih).
Ada beberapa program pembangunan yang kemudian direncanakan oleh Pemerintah pada waktu itu, seperti Pembangunan Lima Tahun (PELITA), dan Pembangunan Jangka Panjang (PJP) setelah 25 tahun sejak PELITA pertama. Beberapa agenda kemudian diprogramkan, yang menurut subjektivitas penulis adalah agenda-agenda positivistic semata dan merupakan agenda untuk melanggengkan kekuasaan. Perencanaan selama 25 tahun tentunya mustahil untuk terwujud dalam beberapa pucuk kepemimpinan yang berbeda, walaupun mempunyai visi yang sama, karena masing-masing kepala mempunyai penafsiran dan rumusan metodologinya sendiri dalam upaya mewujudkan visinya tersebut. Bahkan Penjelasan kemajuan ekonomi Orde Baru melalui penjelasan statistik, layak untuk dipertanyakan. Sebab statistik bisa saja digunakan sebagai manipulasi semata bahkan digunakan sebagai pembenaran guna menutupi kesenjangan yang terjadi antar masyarakat. Apalagi ini terjadi dalam suatu sistem negara otoritarian yang sangat tertutup dan menentang kebebasan erargumen yang dapat mengancam stabilitas politik. Pada kenyataannya, premis angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi berarti kondisi ekonomi yang baik hanya bualan (Anis Ananta). Hal ini karena ternyata masih banyak saja jumlah orang miskin, pengangguran, dan kelaparan di negeri ini.
Pembangunan di Indonesia pada masa itu dicitrakan identik dengan pertumbuhan ekonomi, dengan indikator bahwa sebuah masyarakat dinilai berhasil melaksanakan pembangunan bila pertumbuhan ekonomi masyarakat tersebut cukup tinggi. Dengan demikian, yang diukur adalah produktivitas masyarakat atau produktivitas negara dalam setiap tahunnya. Secara teknis ilmu ekonomi, ukuran yang digunakan untuk mengihitung produktivitas adalah Gross National Product (GNP) dan Gross Domestic Product (GDP). Suatu hal yang sangat tidak adil, mengingat banyak orang yang pada dasarnya tidak tersentuh manfaat dari sistem pembangunan ini. Beberapa orang kaya mungkin mendapatkan keuntungan berpuluh kali lipat dari pendapatan seratus penduduk yang menjadi buruh di pabriknya. Pendapatan besar tersebut tentunya akan mampu menutupi penghasilan kecil buruhnya, jika dikumulasikan dan kemudian dibagi rata sebesar jumlah penduduk Indonesia. Dalam angka, kita akan mendapatkan nilai yang bisa saja menunjukkan indikasi keberhasilan pembangunan di Indonesia.
Sebuah negara yang tinggi produktivitasnya, dan merata pendapatan penduduknya, sebenarnya bisa saja berada dalam sebuah proses untuk menjadi semakin miskin. Hal ini disebabkan karena pembangunan yang menghasilkan produktivitas yang tinggi itu sering tidak memperdulikan dampak terhadap lingkungannya, yaitu lingkungan yang semakin rusak dan sumber daya alam yang semakin terkuras. Sementara itu percepatan bagi alam untuk melakukan rehabilitasi lebih lambat dari percepatan perusakan sumber alam tersebut (Arief Budiman). Pembangunan yang terjadi di Indonesia adalah bagaimana menjual asset-aset negara dan kekayaan alam rakyat Indonesia untuk diolah dan diatur sendiri oleh pihak asing, tanpa kontribusi sebesar keuntungan yang diperoleh perusahaan, investor, dan negara basis perusahaan tersebut.
Selanjutnya, atas nama pembangunan, pemerintah juga sering memberangus kritik yang muncul dari masyarakat. Kritik tersebut dinilai dapat mengganggu stabilitas politik. Hal tersebut dilakukan karena mengangap bahwa stabilitas politik adalah sarana penting untuk memungkinkan pelaksanaan pembangunan (Arief Budiman). Ideologi ini benar-benar telah dijadikan alat untuk memberangus protes rakyat. Kita bisa melihat cotoh kecil bagaimana semua kata yang dicurigai akan mengingatkan memory kolektif rakyat akan masa lalu diburamkan. kata "buruh" misalnya, dirubah menjadi "karyawan" melalui Pembinaan Pusat Bahasa. Bahkan ilmu-ilmu sosial di bawah kungkungan developmentalisme atau pembangunanIsme Indonesia sekedar berfungsi sebagai "pertukangan, punya daya besar tetapi membudak, seperti serdadu" (Ariel Heryanto). Pengembangan ilmu-ilmu sosial semua termanifestasikan dalam wujud rekayasa pengetahuan guna menunjang kebijakan rezim yang ada (Soeharto). Sebab, ilmu sosial di Indonesia, pinjam bahasa Soedjatmoko, sekedar "studi pesanan untuk memoles citra kebijakan dan diarahkan untuk menciptakan proyek". Artinya, ilmu sosial dibajak dan ilmuwannya hanya menjadi makelar rezim kekuasaan, seperti kelompok Mafia Barkeley tersebut.
Begitulah gambaran bagaimana pelaksanaan pembangunan di Indonesia. Sebuah agenda yang benar-benar rapi dan berlangsung dalam waktu yang lama. Lantas mengapa tidak ada yang berani mengusiknya? Bukankah agenda tersebut malah membelenggu kebebasan rakyat? Mengapa negara-negara maju tidak melakukan intervensi lagi?sejumlah pertanyaan yang bisa kita jawab dengan singkat. Karena agenda developmentalisme merupakan agenda global yang dikomandoi oleh negara-negara maju sebagai proyek neoliberalisme guna memudahkan jalannya untuk menancapkan kukunya di negara-negara Dunia Ketiga. Hal ini sekaligus untuk membendung upaya Uni Soviet untuk memperluas pengaruhnya. Untuk itu, mereka membutuhkan kekuatan yang besar untuk bisa dikendalikan dalam mengatur rakyat di negara-negara tersebut. Umumnya, mereka menggunakan tangan militer dalam hal seperti ini.
Akan tetapi terlepas dari semua agenda yang menyangkut kepentingan negara-negara maju tersebut, teori dan paham developmentalisme ini telah gagal dalam membangun negara-negara Dunia Ketiga dan melepaskan mereka dari belenggu permasalahan sosial yang dihadapinya.
Imperialisme atau yang akrab kita pahami sebagai penjajahan merupakan sebuah konsep yang dipopulerkan dalam sejarah oleh Bangsa Eropa. Bangsa Eropa melalui politik imperialisme yang dilancarkannya menjadi sangat dominan dalam menata dan mengatur jalannya sejarah dan konstalasi politik global selama berabad-abad. Mereka menaklukkan dan menguasai lebih dari separuh wilayah yang ada di muka bumi dan mendikte setiap kebijakan yang dikeluarkan di seluruh dunia. Pada masa itu, Bangsa Eropa begitu dominannya sehingga pada kenyataannnya, mereka harus bersaing satu sama lain sebagai Bangsa Eropa.
Beberapa kekuatan besar dalam bentuk negara muncul seiring penaklukan - penaklukan yang terjadi di setiap sudut di seluruh belahan dunia. Di masa - masa awal, muncul kekuatan besar Imperium Romawi dengan wilayah kekuasaan hampir seluruh wilayah Eropa, Afrika bagian Utara, dan Asia Tengah yang kemudian berdiri di urutan paling depan dalam barisan melawan tentara Islam dalam Perang Salib. Selanjutnya adalah munculnya kekuatan - kekuatan seperti Portugis dan Spanyol di masa - masa awal berakhirnya Perang Salib. Masa inilah yang menandai kebangkitan Eropa yang terus belanjut hingga hari ini. Masa ini adalah awal penaklukan wilayah - wilayah di Dunia Timur. Kedua Negara ini jugalah yang sekaligus menjadi pelopor politik imperialisme kuno, sebuah politik penaklukan yang membawa 3 (tiga)misi, yaitu : gold (pencarian kekayaan untuk negara induk di Eropa),gospel (penyebaran agama Nasrani), and glory (pembuktian akan kekuatan armada militer akan kemampuan menaklukkan dan mengukir kejayaan). Keduanya bersaing satu sama lain dalam menaklukkan dan menguasai setiap wilayah yang penuh dengan kekayaan alam.
Selanjutnya, tentu saja munculnya negara - negara seperti Inggris, Perancis, Belanda dan Jerman di abad ke-18 yang menambah ketat persaingan. Masa ini terjadi setelah renaissance, di mana Inggris dan Jerman telah menjelma menjadi kekuatan industri di Eropa. Misi mereka dalam menaklukkan wilayah adalah membangun koloni dan menguasai kekayaan alam dan pasar barang daerah taklukan dan koloninya. Negara - negara ini kemudian menjadi pencetus lahirnya model imperialism modern dengan misi seperti tersebut. Inggris yang dalam sejarah sempat menjadi negara adidaya masih memiliki pengaruh pada bekas jajahannya.[1]
Lahirnya Bangsa Eropa sebagai bangsa yang besar dengan berbagai penaklukan dan kekuasaannya di seluruh belahan dunia, tentunya tidak terlepas dari berbagai peristiwa sejarah yang melatarbelakanginya. Salah satu peristiwa penting sejarah yang berpengaruh besar tehadap perkembangan dan kemajuan bangsa Eropa, khususnya mengenai motivasi untuk menaklukkan bangsa lain dan menguasai mereka dalam arti politik adalah Perang Salib. Tidak dapat dipungkiri bahwa peristiwa Perang Salib sangat berpengaruh terhadap perpolitikan di Eropa. Peristiwa ini membuka pandangan Bangsa Eropa akan ketertinggalan mereka dalam berbagai bidang. Hal yang sangat kontradiktif, mengingat bangsa kulit putih Eropa selalu beranggapan bahwa mereka adalah ras unggul dan diciptakan jauh lebih baik dibandingkan ras manapun di seluruh dunia.
Kemajuan yang terjadi di Timur Tengah dengan komando dari kaum Islam, hingga akhirnya ekspansi pasukan Islam memasuki daratan Eropa yang berakhir pada penenaklukan dan penguasaan atas Konstantinopel (ibukota Romawi Timur) membuat harga diri Bangsa Eropa seakan terinjak - injak. Hal ini memicu berbagai perubahan besar dalam sejarah Eropa, khususnya mengenai metode pengelolaan kekuasaan, maupun politik penaklukan atau imperialisme seperti apa yang telah dikemukakan di atas. Hal ini berpengaruh sangat besar terhadap perubahan paradigma Bangsa Barat mengenai Dunia Timur yang harus ditaklukkan untuk dikuasai dan dikendalikan.
Frederik Barbarossa (Kaisar Jerman), Richard Lion Heart (Raja Inggris), dan Philip Augustus (Raja Perancis), ketiga - tiganya merupakan raja - raja yang paling berkuasa di Eropa, semuanya bangkit menyatakan Perang Salib dengan mengerahkan pasukan mereka masing - masing dalam jumlahnya yang lebih besar.[2]
Asumsi dasar yang tersebut di atas selanjutnya menjadi alasan mengapa permasalahan ini di angkat untuk menjadi pembahasan dalam tulisan ini. Tulisan ini akan mengulas mengenai bagaimana kondisi yang sedang berlangsung di antara dua pihak yang terlibat dalam perang, interaksi, pertentangan, hingga Bagaimana perang ini kemudian berpengaruh terhadap situasi politik di kedua belah pihak, khususnya di Eropa. Permasalahan akan lebih fokus lagi pada politik imperialisme Bangsa Eropa, sehingga judul yang tepat mungkin adalah Pengaruh Perang Salib terhadap Politik Imperialisme Negara - Negara Eropa.
Pembahasan mengenai topik dan pemasalahan tersebut menjadi penting untuk dikaji lebih jauh mengingat dalam sejarahnya, hingga kini bangsa Eropa menjadi sangat berpengaruh dalam melahirkan berbagai bentuk pemerintahan yang kemudian diaopsi oleh negara - negara di seluruh dunia. Hampir setiap negara mengadopsi sistem yang telah ditinggalkan oleh penjajah kolonial mereka. Apa yang berhasil dilakukan oleh bangsa Eropa terhadap dunia pada hari ini, tentunya tidak terlepas dari situasi yang memotivasi mereka pada masa lampau. Melalui tulisan ini, penulis mengemukakan asumsinya mengenai peran penting peristiwa Perang Salib.
B.Batasan dan Rumusan Masalah
Sumbangsih besar bangsa Eropa melalui berbagai ide dan konsep mengenai sistem politik dan pengelolaan kekuasaan yang begitu besarnya berpengaruh dan diterapkan di hampir seluruh negara modern di deluruh dunia tentunya tidak terlepas dari sebuah kebijakan masa lalu yang kita sebut sebagai politik imperialisme. Melalui politik imperialisme ini, bangsa Eropa mendikte dan mengatur setiap daerah yang ditaklukkannnya dengan metode pengelolaan kekuasaan yang sama dengan negara induknya di Eropa. Kondisi ini terus berlangsung hingga pada masa dekolonisasi di pertengahan abad ke-19.
Dekolonisasi yang terjadi tiba - tiba bagi sebagian besar negara bekas jajahan dan koloni, dengan rentang masa penderitaan akibat penjajahan yang berlangsung selama berabad - abad, memaksa setiap negara yang baru terbentuk untuk mengadopsi sistem dan metode pemerintahan yang lama dan telah mapan berlaku, peninggalan kolonial. Hal ini terjadi tentu saja akibat tidak pernah adanya kesempatan yang diberikan oleh pemerintah kolonial dan penjajah untuk memikirkan masa depan mereka sebagai sebuah negara-bangsa.
Merunut sejarah lebih jauh lagi ke belakang, maka kita akan mendapati bahwa imperialisme ini konsekuensi dari adanya renaissance di Eropa pada abad ke-16, yang ditandai dengan bermunculannya banyak tokoh-tokoh pemikir. Sementara itu, renaissance sendiri dapat kita simpulkan sebagai geliat intelektual Eropa akibat kesadaran ang terbangun mengenai semakin jauhnya budaya dan peradaban Islam meninggalkan budaya dan peradaban masyarakat Kristen Eropa. Secara umum dampak utama perang salib adalah menggeliatnya gelora renaissance di Barat pasca Perang Salib.[3]
Untuk memahami lebih jauh mengenai pembahasan dalam tulisan ini, berikut ini daftar rumusan permasalahan yang diangkat dan akan menjadi skema pembahasan tulisan ini hingga selesai :
1.Bagaimana kondisi sejarah yang memicu terjadinya Perang Salib dan memicu pola pikir disosiatif terhadap dunia Timur ?
2.Bagaimana pengaruh Perang Salib terhadap geliat renaissance dan memotivasi lahirnya konsep imperialisme ?
C.Pembahasan
Perang Salib adalah perang terbesar yang melibatkan kelompok atau masyarakat agama, dalam hal ini Kristen dan Islam. Entitas Kristen diwakili oleh Eropa, sedangkan entitas Islam adalah representasi Timur dengan Kesultanan Turki Utsmaniyah sebagai pemimpinnya. Pada dasarnya, Perang Salib terjadi akibat persaingan atau perseteruan dua agama samawi tersebut. Akan tetapi dalam perjalanannya kemudian, setelah keterlibatan Inggris, Perancis, dan Jerman, Perang Salib berubah menjadi pertarungan kekuasaan di antara imperium - imperium yang terlibat.
Gambaran mengenai perjumpaan IslamdanKristen dalam sejarah dapat diperhatikan dengan melalui dua warna yang mencolok yakni warna kelam yang meliputi pertentangan, kecurigaan, permusuhan bahkan perang. Yang kedua, warna cerah yang meliputi kehidupan bersama dalam hubungan yang damai, saling percaya dan memperkaya. Kedua warna ini lahir sebagai konsekuensi dari interaksi yang tak terhindarkan dan sadar atau tidak dialami oleh kedua belah pihak. Perang Salib sebenarnya hanya merupakan salah satu bagian di antara sekian banyak yang lain mengenai interaksi Islam dan Kristen. Jauh sebelumnya bahkan pada masa Nabi Muhammad s.a.w telah dicatat interaksi tersebut. Perluasan kekuasaan Islam dengan cara militer (perang) sampai ke daerah-daerah Kristen seperti pendudukan Spanyol bagian selatan dan daerahSisilia di Italia atau Perancis bagian selatan menimbulkan konsekuensi tersingkirnya kekuasaan lama oleh penguasa baru.
Di Spanyol, bangsawan Visighot terpaksa melarikan diri setelah pendudukan Dinasti Islamatas Spanyol. Namun di pihak lain sebuah kehidupan antarbudaya dan antaragama tidak dapat dielakkan. Di masa sebelum Perang Salib, kaum Muslim, Kristendan Yahudi di Spanyol dapat hidup berdampingan secara damai, hal ini disebabkan oleh pemahaman bahwa penaklukan Spanyol oleh dinasti Islam tidak dilatarbelakangi oleh semangat keagamaan bahkan sebaliknya gagasan-gagasan yang dominan pada waktu itu bukanlah gagasan keagamaan dalam hal ini Islami melainkan gagasan Arab sekular.[4] Akan tetapi, tidak dapat dielakkan bahwa kehadiran Islam di Spanyol berpengaruh besar terhadap membesarnya perseteruan di antara Islam dan Kristen. Pergantian kekuasaan, tentunya akan diikuti pula oleh pergantian sistem politik dan metode pengelolaan negara dan masyarakat. Begitupula dengan budaya - budaya yang dibawa oleh penguasa yang baru, tentunya akan lebih diapresiasi dan diberi ruang aktualitas yang lebih luas.
Sebagian besar pengaruh kebudayaan Islamatas Eropa terjadi akibat pendudukan kaum Muslim di Spanyol dan Sisilia. Berasal dari sekelompok tentara pengintai Islam menyeberang dari Afrika Utara ke ujung paling selatan Spanyol pada Juli 710. Laporan kegiatan mata-mata ini menimbulkan minat baru untuk menyerang. Pada tahun 711 pasukan penyerang yang berjumlah 700 orangyang dipimpin oleh Tariq dari Bani Umayyah menyerbu Spanyol berhasil mengalahkan Roderick, raja Visigoth. Setelah menambah sekitar 500 orang lagi tentara Arab berhasil menaklukkan hampir seluruh semenanjung Iberia.
Pada tahun 750 kekaisaran Islamdi bawah kendali Bani Umayyah jatuh di tangan Bani Abbasiyah. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Damaskus ke Baghdad. Oleh karena berpusat di timur, maka mereka kesukaran mengendalikan provinsi di sebelah barat. Seorang pangeran muda dari Bani Umayyah berhasil melarikan diri dari Maroko ke Spanyol. Di sana ia bergabung dengan salah satu faksi yang tengah bentrok, danatas kepemimpinannya mereka menggapai kemenangan. Pada tahun 756 ia bergelar Khalifah Abd al-Rahman I dengan pusat pemerintahan di Cordoba.[5]
Keberadaan negara atau wilayah tersebut tentunya tidak lepas dari berbagai gerakan-gerakan politik di dalamnya. Gerakan politik pertama muncul pada akhir pemerintahan Ustman bin Affan yang ditandai dengan kemunculan Abdullah bin Saba’. Gerakan politik ini selalu melekat pada pemerintahan Islamdi sepanjang sejarah, termasuk di Spanyol Islam. Intrik-intrik ini membuat Spanyol Islam mengalami pasang surut. Dunia Kristen Latin juga merasakan pengaruh Islam melalui Sisilia. Serangan pertama ke Sisilia terjadi pada pertengahan abad ke-7 di kota Sisacusa. Akan tetapi pendudukan orang-orang Arab di Sisilia tidak berlangsung lama. Kebangkitan kembali Kerajaan Byzantium mengakibatkan berakhirnya semua pendudukan atas wilayah-wilayah penting.
Pada tahun 1055 tentara Turki mulai menyerang ke arah barat, yaitu kekaisaran Byzantium dan Syiria. Mereka selanjutnya menguasai Yerusalem pada tahun 1070 melalui serangan yang dipimpin oleh Alp Arselan. Dengan demikian daerah yang bertetangga dengan dunia Kristen dikuasai oleh orangIslam militan. Orang-orang Kristenyang dahulu dapat berziarah ke Yerusalem secara bebas mulai diganggu oleh orang-orang Turki. Pada abad 11 orang-orang yang hendak berziarah membentuk kelompok-kelompok besar lengkap dengan perlindungan militer. Dr. Badri Yatim, M.A. menyebutkan bahwa peristiwa tersebut menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang kristen terhadap umat Islam.[6]
Sementara itu, kemarahan yang timbul akibat jatuhnya Yerussalem ke tangan tentara Islam mengubah pola interaksi Islam dan Kristen secara ekstrem. Misi pekabaran Injil mulai dihubungkan dengan ekspedisi militer. Memasuki abad 11 gereja mulai melibatkan para bangsawan yang gemar berperang untuk menyerang musuh-musuhnya. Musuh-musuh di sini adalah orangIslamdan para bidat. Dengan demikian gereja mengatur peperangan dan menjamin kedamaian, ketenteraman, serta keadilan. Para bangsawan diberi etos khusus agar memakai keahliannya demi iman dan gereja. Mereka menjadi tentara Kristen atau ksatria Kristen. Paus mengobarkan semangat mereka dan memberi jaminan pengampunan dosa. Paus berambisi untuk menggabungkan gereja timur ke dalam kekuasaannya dan mengusir orangIslam dari Baitul Maqdis . Pada tahun 1050 dimulailah sebuah gerakan yang kemudian dikenal sebagai perang suci atau Perang Salib. Disebut Perang Salib karena para ksatria menggunakan lambang salib dari kain merah pada bahu dan dada sebagai tanda.
Perkembangan Peradaban Islam dan Berubahnya Persepsi Barat
Keberadaan Muslim di Tanah Suci harus dilihat sejak penaklukan bangsa Arab terhadap Palestina pada abad ke-7. Hal ini sebenarnya tidak terlalu mempengaruhi penziarahan ke tempat-tempat suci kaum Kristiani atau keamanan dari biara-biara dan masyarakat Kristen di Tanah Suci Kristen ini. Sementara itu, bangsa-bangsa di Eropa Barat tidak terlalu perduli atas dikuasainya Yerusalem, yang berada jauh di Timursampai ketika mereka sendiri mulai menghadapi invasi dari orang-orang Islam dan bangsa-bangsa non-Kristen lainnya seperti bangsa Viking dan Magyar. Akan tetapi, kekuatan bersenjata kaum Muslimlah yang berhasil memberikan tekanan yang kuat kepada kekuasaan Kekaisaran Byzantium yang beragama Kristen OrthodoxTimur.
Sementara itu, Arab atau dunia Islam telah semakin majunya dengan perkembangan ilmu pengetahuannya. Satu hal yang menarik di dunia Islam adalah bahwa mereka menerima kehidupan social yang multicultural. Mereka member perlindungan bagi budak - budak dan orang - orang Yunani yang lari dari pengejaran orang - orang Romawi.
Pada abad kesembilan orang Arab mulai bersentuhan dengan sains dan filsafat Yunani. Hubungan ini membuahkan hasil berupa kemajuan kultural yang, menurut orang Eropa, dapat dilihat sebagai penghubung antara zaman Renaisans dan zaman Pencerahan. Sebuah tim penerjemah, kebanyakan beranggotakan orang Kristen Nestorian, menerjemahkan naskah-naskah Yunani ke dalam bahasa Arab dan berhasil melaksanakan pekerjaan yang brilian. Kaum Muslim Arab kini bisa mempelajari astronomi, kimia, kedokteran dan matematika dengan sangat gemilang sehingga selama abad kesembilan.[7]
Peradaban Islam pada abad ke –11 tengah mengalami kemajuan yang sangat pesat di hampir dalam segala bidang. Bukan saja arsitektur yang megah melalui bangunan-bangunan mesjid yang luarbiasa indahnya menjadi simbol bangkitnya peradaban Islam dewasa itu, namun di bidang Ilmu Pengetahuan, Astronomi, Filsafat dan Medis pun Islam pernah menjadi parameter dunia. Munculnya nama-nama besar seperti Averoes (Ibn Rush) sang Filosof yang karya terjemahan dan komentarya terhadap karya Filosof Yunani Aristoteles dipakai oleh para teolog Barat seperti Thomas Aquino, atau sang Dokter ternama Ibn Sinna (Avicienna) yang karyanya digunakan cukup lama di sekolah-sekolah kedokteran Eropa. Bangkitnya peradaban dibarengi dengan perluasan kekuasaan Islam. Hingga Abad ke-11 Islam telah menguasai wilayah-wilayah kekaisaran Byzantinum seperti Suria, Mesir bahkan seluruh daerah Afrika Utara (sampai Marroko). Perluasan kekuasaan ini kearah barat sampai ke Spanyol Selatan dan kearah timur, Islam menguasai wilayah-wilayah seperti Rusia bagian selatan (Transoxania) bahkan telah menguasai Asia Tengah sampai ke Afganistan.
Dalam kurun waktu kurang dari satu abad, kekuasaan Islam telah melampaui tiga kali luas Kerajaan Romawi. Keberhasilan ini, menurut para sejarahwan tidak lain berkat ajaran yang menganjurkan penyebaran doktrin Islam (mission atau dakwah), sebagai sebuah grlora iman yang menghiasi diri para penganutnya.[8]
Bagi Eropa kenyataan ini melahirkan kekaguman di satu pihak dan ketakutan di pihak lain. Ada pemahaman bahwa Islam telah menguasai separuh gndunia. Penguasa dan pimpinan agama Kristen di Eropa hampir kehilangan nyali menghadapi kekuatan Islam yang bangkit pada masa itu. Islam dilihat sebagai bahaya yang mengancam eksistensi Eropa secara budaya maupun religi. Keberhasilan penguasa Eropa untuk merebut kembali wilayah-wilayah Spanyol selatan seperti Toledo tahun 1085 dan Sisilia tahun 1091 melahirkan kepercayaan diri yang baru akan kekuatan Eropa untuk menghadapi kekuatan Islam.[9]
Faktor lainnya adalah keberadaan Yerusalem. Sebelum perang salib yang pertama (sampai awal abad ke-11), Yerusalem berada dibawah kekuasaan Islam dalam hal ini dinasti Fatimiyya. Meskipun demikian Yerusalem masih menjadi tempat Ziarah yang paling populer bagi umat Kristen Eropa secara khusus pada abad ke-11. Pelaksanaan ziarah ke Yerusalem diberitakan mengalami gangguan dari pihak-pihak perampok. Dengan kata lain keamanan pelaksanaan ziarah ke kota suci tidak dapat lagi dijamin. Hal ini dilihat oleh pimpinan Gereja Katolik Roma untuk bentindak memberi keamanan kepada para peziarah bukan dengan cara damai melainkan dengan kekerasan yakni perang untuk merebut kota suci tersebut.
Titik balik lain yang berpengaruh terhadap pandangan Barat kepada Timur adalah ketika kalifah Bani Fatimiah, Al-Hakim bi-Amr Allah memerintahkan penghancuran Gereja Makam Suci (Church of The Holy Sepulchre). Penerusnya memperbolehkan Kekaisaran Byzantium untuk membangun gereja itu kembali dan memperbolehkan para peziarah untuk berziarah di tempat itu lagi. Akan tetapi banyak laporan yang beredar di Barat tentang kekejaman kaum Muslim terhadap para peziarah Kristen. Laporan yang didapat dari para peziarah yang pulang ini kemudian memainkan peranan penting dalam perkembangan Perang Salib pada akhir abad itu.
Sementara itu, merasa terancam akan ekspansi dan perluasan wilayah taklukan dan kekuasaan pasukan Islam, Kaisar Byzantium, Alexius I, memohon bantuan kepada Paus Urbanus II untuk menolong Kekaisaran Byzantium menahan laju invasi tentara Muslim masuk ke dalam wilayahnya. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa dalam Pertempuran Manzikert tahun 1070,Kekaisaran Byzantium telah dikalahkan oleh pasukan Muslim Seljuk pimpinan Alp Arselan. Kekalahan ini berujung kepada dikuasainya hampir seluruh wilayah Asia Kecil (Turki modern). Sebenarnya, pada tataran ini, konflik yang terjadi karena tumbuhnya prasangka, kecurigaan, stereotyping yang lahir dari bentuk kesalahpahaman pada masing - masing pihak.[10]Akan tetapi pada masa itu, terjadi pertentangan yang sedang berlangsung antara gereja Katolik Barat dengan gereja Orthodox Timur. Meski demikian, Alexius I tetap mengharapkan respon yang positif atas permohonannya. Sejarah panjang kehilangan wilayah dari musuh religius dan perlakuan atas saudara se-iman masyarakat Kristen Eropa tentunya menjadi motivasi kuat dalam merespon seruan Kaisar Alexius I, untuk melakukan perang suci mempertahankan kristen dan mendapatkan kembali tanah yang hilang.
Akhirnya, setelah melihat kemungkinan menyatukan kembali kristen, mengangkat kepausan dan mungkin menjadikan daerah timur berada dalam kendalinya, Paus menyanggupi dengan respon yang amat besar, akan tetapi hanya sedikit bermanfaat bagi Alexius I. Paus menyeru bagi bukan saja untuk mempertahankan Kekaisaran Byzantium, akan tetapi juga untuk merebut kembali Yerusalem.
Selanjutnya adalah dimulainya peperangan terbuka di antara kedua belah pihak. Berikut ini beberapa peperangan penting yang menentukan sejarah interaksi dunia Barat dan Timur di masa - masa Perang Salib :
1.Perang Salib I (1095-1099)
2.Perang Salib II (1147-1149)
3.Perang Salib III (1189-1192)
4.Perang Salib IV (1202-1204)
5.Perang Salib V (1218-1221)
6.Perang Salib VI (1248 - 1254)
7.Perang Salib VII (1270)
Selama masa perang yang berlangsung hampir dua ratus tahun itu, terjadi banyak hal dan perubahan konstalasi dengan kedua kubu, baik pasukan Islam maupun Kristen saling bergantian dalam menguasai suatu wilayah, apalagi wilayah - wilayah sengketa seperti Yerussalem, Konstantinopel, dan Tripoli. Masa - masa akhir Perang Salib ditandai dengan semakin menguatnya posisi Pasukan Islam, ditandai dengan pendudukan kembali Yerussalem oleh tentara Islam setelah dikuasai oleh tentara Kristen selama lima puluh tahun.
Pada tahun 1262 pasukan Islam di bawah Sultan Baybars membangkitkan massa Saladin untuk kembali ke Asia Barat. Sebuah kota dan benteng yang dikuasai oleh tentara Salib direbutnya kembali, sehingga pada tahun 1286 kota Jaffa dapat juga ditaklukkan. Penyerangan berikutnya diteruskan ke Utara untuk merebut Antiokhia. Pada tahun 1289 Tripoli di Lebanon direbutnya juga. Pada tahun 1291 Akko, sebuah kota terpenting kekuatan tentara Salib, dapat ditaklukkannya. Sejak saat itu masa tentara Salib habis di seluruh benua Timur.[11]
Apa yang terjadi selanjutnya adalah penguasaan dunia Islam terhadap Laut Tengah dengan kendali penuhnya atas pelabuhan dagang Konstantinopel. Hal ini sekaligus menutup akses pedagang dan kapal - kapal Eropa untuk masuk dan berdagang di Kostantinopel. Kalaupun ada yang mendapatkan izinnya, mereka tentunya akan berdagang dengan biaya yang sangat mahal.
Renaissance dan Imperialisme Eropa
Telah dibahassebelumnya bahwa salah satu dampak dari kekalahan tentara Kristen Eropa dalam Perang Salib adalah menggeliatnya renaissance. Interaksi yang berlangsung lama dan intens, walaupun dibumbui oleh sentiment di antaranya masing - masing, tetap dapat member sumbangan positif bagi bangsa Eropa. Pada saat itu, tampak terjadi saling tukar ilmu pengetahuan antara Kristen dandunia Islam. Walaupun benua Eropa telah bersinggungan dengan budaya Islam selama berabad-abad melalui hubungan antara Semenanjung Iberia dengan Sisilia, akan tetapi, penyerapan ilmu pengetahuan di bidang-bidang sains, pengobatan dan arsitektur lebih ekstensif dan intensif diserap dari dunia Islam ke dunia Barat selama masa Perang Salib.
Sementara itu, trauma akibat masa perang yang panjang dan banyaknya korban, memicu dunia Islam untuk cenderung menarik diri dari perhelatan politik dunia. Puncaknya tentu saja ketika kekhalifahan Turki Utsmaniyah tumbang dengan drastic di tahun 1924. Serangan yang dating dari berbagai arah menyebabkan dunia Islam berpaling ke dirinya sendiri. Ia menjadi sangat sensitif dan defensif dan tumbuh menjadi semakin buruk seiring dengan perkembangan dunia.
Kodisi kontradiktif yang terjadi di antara kedua entitas ini pada akhirnya berujung pada kesenjangan yang terjadi di antara mereka. Eropa begitu majunya dengan berbagai penemuan dan ide - ide filsafat baru, sedangkan dunia Islam stagnan di suatu posisi yang nyaman menurutnya. Suatu posisi yang kemudian dapat disusul dan dilampaui oleh bangsa Eropa dengan peradabannya di masa - masa selanjutnya.
Dalam waktu singkat, bangsa Eropa telah mampu berdiri sendiri dengan berbagai kemajuan yang dialaminya dalam bidang - bidang seperti teknologi pelayaran, pertanian, sampai pada matematika, astronomi, kedokteran, logika, dan metafisika. Faktanya adalah bahwa Perang Salib membawa kemajuan sosial bagi masyarakat Barat. Rakyat Eropa yang saat itu berperadaban rendah, mulai mengenal kecemerlangan peradaban umat Islam dan mereka mulai mempelajari ilmu dan peradaban dari rakyat muslim. Orang - orang Kristen mengambil manfaat dari kemajuan peradaban dan kesenian umat Islam tetapi permusuhan bersejarah fanatisme Kristen dengan Islam Timur tidak pernah berkurang.
Infiltrasi dunia Kristen terhadap Islam hanya terbatas pada sebagian budaya agama dan perang, tetapi dunia Islam melakukan berbagai infiltrasi dalam dunia kristen. Sebaliknya, dari Islam, Eropa mengadopsi makanan, minuman, obat-obatan, kedokteran, persenjataan, selera dan kecenderungan seni, metode industri dan perdagangan, undang-undang, dan metode kelautan.[12]
Kemajuan - kemajuan yang telah dicapai tersebut memberi motivasi bagi orang - orang Eropa dan terdorong untuk mencari sendiri jalan ke Timur Jauh, daerah penghasil rempah-rempah dan kain sutra. Hal ini mereka lakukan supaya tidak bergantung lagi pada dunia Islam.
Masa - masa inilah yang kemudian disebut sebagai renaissance, yaitu suatu masa di mana terjadi peralihan antara abad pertengahan ke abad modern yang ditandai dengan lahirnya berbagai kreasi baru yang diilhami oleh kebudayaan Eropa Klasik (Yunani dan Romawi) yang lebih bersifat duniawi. Kebayakan dari para ahli sejarah sepakat bahwa renaissance berawal di Italia. Setelah runtuhnya Romawi Barat tahun 476 M, Italia mengalami kemunduran. Kota - kota pelabuhan menjadi sepi. Selama abad 8-11 perdagangan di Laut Tengah dikuasai oleh pedagang muslim. Sejak berlangsung perang salib (abad 11-13) pelabuhan-pelabuhan di Italia menjadi ramai kembali untuk pemberangkatan pasukan perang salib ke Palestina. Setelah perang salib berakhir pelabuhan-pelabuhan tersebut berubah menjadi kota dagang yang berhubungan kembali dengan dunia timur. Maka muncullah republik dagang di Italia seperti Genoa, Florence, Venesia, Pisa di Milano. Kota-kota ini dikuasai oleh para pengusaha serta pemilik modal yang kaya raya atau golongan borjuis. Mereka mendorong terjadinya pendobrakan terhadap pola - pola tradisional dari abad pertengahan.
Salah satu pengaruh Perang Salib yang di masa berikutnya berpengaruh terhadap perkembangan imperialisme adalah andilnya terhadap kemerosotan tingkat kepercayaan umat kristiani terhadap gereja katolik Roma, yang diakibatkan oleh pembenaran Paus terhadap agresi politik dan wilayah yang terjadi di Yerusalem maupun daerah kekaisaran Byzantium (gereja Eropa timur). Selama beberapa abad berbagai usaha melawan penindasan negara-gereja mengalami kegagalan.
Gerakan Renaissance bersamaan waktunya dengan pagelaran imperialisme Barat secara besar-besaran. Pelaku dan korban lebih dari satu. Sesungguhnya imperialisme Barat sudah ada sejak lama, tetapi perkembangan yang pesat terjadi sejak abad ke-16. Perkembangan teknologi pada masa itu, khususnya pelayaran dan persenjataan, membangkitkan hasrat beberapa bangsa Barat menjelajah dan menjajah ke seantero dunia.[13]
Beberapa kelompok menolak dan tidak sepaham dengan kebijakan Paus untuk melakukan Perang Salib. Mereka mengkritiknya sebagai sebuah tindakan yang tidak manusiawi dan mengingkari ajaran Kristus. Kelompok iniadalah penganut humanisme yang perannya tentu tidak bias diabaikan dalam melahirkan gerakan renaissance. Selama Perang Salib, mereka tidak terlibat dalam peperangan, akan tetapi menghabiskan waktu dengan mengabdikan hidupnya untuk mempelajari dan mendalami buku-buku karya Pusataka Klasik antara lain buah pikiran Sokrates, Plato dan para filsuf Yunani yang lain. Kaum Humanis terdiri dari sastrawan, seniman, ahli agama/teologi., guru kaum borjuis, orator (ahli pidato) dan sebagainya. Mereka adalah penganut sekularisme dan peranan mereka sama besarnya dengan para borjuis dalam menggaungkan renaissance. Orang -orang dari kelompok inilah yang berpengaruh dalam geliat intelektual Eropa dengan melahirkan berbagai konsep social- politik Pasca-Abad Pertengahan.
Kebangkitan Barat selanjutnya mendorong mereka keluar dan mencari “dunia lain” untuk ditaklukan. Kemenangan yang diraih Portugis tahun 1267 dan Spanyol terhadap kaum Muslim Arab pada 1492 mengangkat motivasi mereka. Rasa percaya diri sebagai manusia unggul bangkit, tetapi pada saat bersamaan dunia Barat sedang terancam oleh gerak maju bangsa Timur lain yaitu Muslim Turki ke bagian timur dan tenggara Eropa. Dengan demikian penjajahan ke seberang lautan masuk pula dalam agenda Renaissance. Adapun semboyan imperialisme Barat adalah gold (mencari kekayaan), gospel (menyebar pengaruh berupa nilai-nilai yang dianut Barat) dan glory (mencari kehormatan).[14]
Maka dimulailah penjelajahan ke dunia Timur dengan prakarsa Portugis dan Spanyol. Penaklukan dilakukan di setiap wilayah yang disinggahi dengan spirit gold, gospel, amd glory tersebut. Inilah awal mula praksis konsep imperialisme Barat dan berlangsung hingga pertengahan abad ke-20. Imperialisme Barat berlangsung dengan begitu kuatnya hingga mempengaruhi setiap sendi - sendi kahidupan social masyarakat di tiap - tiap wilayah taklukannya. Hingga kini, dapat dirasakan bagaimana konsep - konsep Barat begitu mencekoki alam pikiran bawah sadar manusia di seluruh dunia.
D.Kesimpulan
Sejarah politik imperialisme Barat tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan berbagai kondisi yang melatarbelakanginya. Imperialisme seakan merupakan aksi arogansi dan pelampiasan dendam bangsa Eropa atas kekalahan memalukan dalam perang yang berlangsung selama hampir dua abad tersebut. Dan dari sekian banyak factor, peristiwa Perang Salib dan geliat renaissance di Eropa mendapat porsi yang begitu besar akan perannya dalam memupuk persepsi baru mengenai Dunia Timur yang harus ditaklukkan.
Perang Salib memicu dua hal, yaitu berubahnya persepsi dunia Barat terhadap dunia Timur, khususnya Islam sebagai kelompok atau golongan yang harus diwaspadai. Hal ini mengingat kekuatan Islam yang begitu besar akibat kemajuan yang diperolehnya dalam tempo singkat dan mampu bertahan sangat lama. Interaksi yang intens memberi keuntungan bagi Eropa dalam hal transfer pengetahuan dari Timur. Hal ini membangunkan Eropa dari peradabannya yang rendah menatap kemajuannya, seperti yang kita saksikan sekarang. Kedua, bahwa Perang Salib tanpa sadar telah melahirkan kelompok borjuis yang mampu membangun peradaban kota dagang dan kelompok penganut humanisme yang menolak perang dan memikirkan sistem social politik alternative yang sekular di masa berikutnya agar bisa diterapkan di Eropa. Dua hal yang kemudian meledakkan sebuah aktivitas intelektual yang disebut sebagai renaissance.
Imperialisme menjadi konsekuensi bagi renaissance karena kedua alasan itu pula (persepsi baru atas dunia Timur dan geliat kemajuan Barat). Hubungan pasca-Perang Salib di antara Islam dan Eropa memaksa Eropa untuk melepaskan ketergantungan pasokan kebutuhannya dari dunia Islam. Maka dimulailah penjelajahan ke Timur, dengan membawa misi gold, gospel, amd glory, sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika terus mengandalkan pasokan kebutuhan dari dunia Islam.
E.Daftar Pustaka
BUKU
Armstrong, Karen.2002. Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-Orang Yahudi, Kristen, dan Islam selama 4.000 Tahun.MIZAN.Bandung.
Djaelani, Abdul Qadir.2006.Pertarungan Marathon : Yahudi dan Kristen dengan Islam Abad VII - XXI.Rabitha Press.Jakarta.
Shihab, Alwi.2004.Membedah Islam di Barat. Menepis Tudingan Meluruskan Kesalahpahaman. Gramedia.Jakarta.
Watt, Montgomery.1995. Islam dan Peradaban Dunia. Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan, Gramedia.Jakarta.
JURNAL
Jurnal Politik Internasional GLOBAL, Vol.9 No.2 Desember 2007-Mei 2008, Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia.
[7] Karen Armstrong.2002. Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-Orang Yahudi, Kristen, dan Islam selama 4.000 Tahun.MIZAN.Bandung.hal.17.
[8] Alwi Shihab.2004.Membedah Islam di Barat. Menepis Tudingan Meluruskan Kesalahpahaman. Gramedia.Jakarta.hal.44.
[10] Ade Armando,”Dialog Antarbudaya Sebagai Jawaban dan Persoalan - Persoalan Yang Menghadangnya”, Jurnal GLOBAL, Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia, Vol.5 No.2 Mei 2003- Desember 2003.hal.1.